SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Home » , , , , » Pdt.Socratez, Menulis untuk Bangkitkan Identitas Bangsa Papua

Pdt.Socratez, Menulis untuk Bangkitkan Identitas Bangsa Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on October 5, 2012 | 1:18 AM

Bincang-Bincang dengan Socratez S Yoman Tentang Buku-Buku yang Sering Menuai Kontraversi
Bagi orang Papua, nama Pdt Socratez S Yoman, sudah tidak  asing lagi. Pendeta yang kini memilih tinggal di sebuah rumah yang agak sedikit jauh dari pemukiman penduduk, masih terus aktif menulis buku. Berikut bincang-bincang Bintang Papua dengannya.

Laporan Ahmad Jainuri-Bintang Papua
Pdt. Socratez Sofyan Yoman
Persoalan Bangsa Papua, menurutnya sudah lama dibuat lumpuh, bisu dan takut dengan suatu sistem pemerintahan Negara yang kejam dan tidak manusiawi. 

Hal itulah yang menjadi dasar hingga ia aktif menuliskan buku-buku yang tak jarang menuai kontraversi, dan sebagian bukunya pernah dilarang beredar di Indonesia.  

Diceritakan bahwa ada satu tokoh yang menjadi inspirator utama. “Saya terinspirasi dari Arnold Ap, seorang Budayawan Papua yang dibunuh di base G tahun 1984 oleh Kopasanda sekarang ini Kopassus dan lagu yang berjudul mambesak,” kisahnya saat Bintang Papua berkunjung ke rumahnya di Itha Wakhu Purom, Padang Bulan, Distrik Heeram, Kota Jayapura, Rabu (3/10). 

Dengan lagu-lagunya yang mengungkapkan tentang identitas orang Papua, menurutnya Arnold Ap, lirik lagunya dapat membangkitkan identitas Bangsa Papua dan menghidupkan kembali kehidupan bangsa Papua.
“Dia kasih tahu bahwa you punya bahasa, you punya budaya, dia kasih tahu lewat lagu-lagunya,” ungkapnya lagi.

Walaupun Arnold Ap dibunuh, menurutnya namanya tetap hidup bersama rakyat dan bangsa Papua. “Saya berpikir, saya tidak mungkin menyanyi, tetapi Allah kasih talenta lain, yaitu menulis. Menulis itu bagi saya sangat mudah. Saya Mengucap syukur kepada Allah yang telah memberi saya talenta itu,” lanjutnya.
Dukungan istri dan dua anaknya serta umat yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-Gereja Babtis Papua, sangat berarti buatnya hingga bisa menghasilkan karya-karya yang dapat dikatakan telah mendunia. Tulisan-tulisannya, dibuat sebagai sarana membangun kesadaran bangsa. “Kembalikan identitas mereka yang sesunguhnya,” tandasnya.

Lewat karya tulisnya, sebagai   salah satu sarana untuk menyadarkan bangsa Papua dan untuk mengembalikan identitas orang Papua yang sesungguhnya, yang selama ini kebenaran tersebut dikuburkan oleh Bangsa Indonesia. “Ini sesungguhnya khotbah saya,” ujarnya.

Kalau pendeta-pendeta lain kotbah di atas mimbar, ia lebih memilih berkotbah dengan karya tulis.
“Entah masyarakat mau terima dan tidak terima itu soal kedua. Selagi saya masih hidup, saya menulis dan menulis menyuarakan suara kenabian itu,” tegasnya lagi.
Ia mau berusaha untuk benar-benar meyakinkan bangsa Papua, bahwa kamu adalah bangsa yang punya identitas. 

“Saya juga mau kasih tahu rakyat Papua ini, bahwa kamu adalah pemilik sah tanah dan bangsa Papua ini,” lanjutnya lagi.
Juga mau kasih tahu, kepada bangsa Papua dan bangsa-bangsa lain bahwa selama ini telah salah menilai orang Papua.

“Saya masu kasih tahu orang-orang pendatang di tanah Papua, bahwa kau salah dikasih tahu oleh negaramu tentang orang Papua,” ungkapnya masih dengan nada tegas.

Buku-bukunya, dikatakan bahwa telah ada di Perpustakaan Kongres Amerika.
“Dari perpustakaan Kongres Amerika, mereka minta buku-buku saya, dua tahun lalu. Mereka minta dan saya kirim secara resmi,” ungkapnya.

Bahkan, buku yang telah selesai proses editing, dan masih menunggu proses lay out untuk pencetakan, telah mendapat dukungan banyak tokoh, baik lokal, nasional, dan internasional. 

“Saya sudah mendapat endorsement (persetujuan atau dukungan) dari sejumlah tokoh di dalam dan luar negeri. Seperti Pieter Grooglever (penulis buku berjudul Tindakan Pilihan Bebas, Orang papua dan Penentuan Nasib Sendiri, yang menyatakan ‘Bacalah buku Pendeta Yoman ini : Suara sedih yang kita tidak boleh lewatkan begitu saja’ 

Buku tersebut adalah dengan judul ‘Suara Gembala Menentang Kejahatan Kemanusiaan di Tanah Papua’.
Buku tersebut, menurutnya juga sudah ada pihak lain yang bersedia mendanai untuk diterjemahkan ke dalam bahasa inggris.

Bahkan ia juga sedang menyelesaikan dua buku lain yang akan menyusul berikutnya.** 
Share this article :

0 Komentar Anda:

Post a Comment

Your Comment Here

Recent Posts

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger