 |
| ilustrasi |
Papua dibanjiri mata-mata, demikian judul artikel harian sore
NRC Handelsbald, Kamis (1/9). Penguasa di Jakarta takut gerakan
separatisme di propinsi paling timur Indonesia itu akan semakin kuat.
Kopassus mengerahkan spion dalam jumlah besar mulai dari sopir taksi, jurnalis, petani, penjual minuman, dan pendeta.
NRC Handelsblad mendasarkan berita ini pada ratusan dokumen dinas
mata-mata Kopassus tentang Papua yang bocor ke media. Dokumen tersebut
memperlihatkan upaya keras tentara untuk memantau gerak-gerik para
aktivis, politisi, pemimpin gereja dan warga asing di Papua.
Aktif
Papua adalah satu-satunya propinsi di Indonesia di mana gerakan
separatisme masih aktif. Tentara dan polisi dalam jumlah besar
diturunkan di pulau Cendrawasih itu.
"Hal paling sensitif untuk tentara adalah separatisme," tulis NRC Handelsblad.
Menurut Muridan Widjojo, peneliti LIPI yang diwawancarai NRC
Handelsblad, selain Kopassus berbagai instansi pemerintah lain juga
menurunkan mata-mata seperti pemerintah pusat, pemda provinsi, polisi
dan satuan militer lainnya.