SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Home » , , , , , , » Siasat Polisi Dalam Membunuh dan Menangkap Aktivis KNPB

Siasat Polisi Dalam Membunuh dan Menangkap Aktivis KNPB

Written By Voice Of Baptist Papua on December 23, 2012 | 8:29 PM

Activist KNPB
Jayapura, KNPBNews – Teror, intimidasi, penangkapan, pemenjaraan hingga pembunuhan sepertinya tiada henti dialami oleh aktivis Komite Nasional Papua Barat [KNPB]. Sikap militan dan radikal dalam memperjuangkan hak kemerdekaan bangsa Papua Barat itulah alasan mengapa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat mewanti-wanti, bertindak brutal dan semakin ganas dalam menghadapi gerakan perlawanan KNPB selama ini.

Sejak KNPB dibentuk tahun 2008, aksi-aksi damai yang dimotori KNPB dengan konsolidasi massa rayat ke hampir seluruh wilayah Papua Barat membuat NKRI menggunakan berbagai macam siasat dalam membungkam dan menghancurkan gerakan KNPB yang memiliki jaringan internasional yang luas serta konsolidasi tingkat akar rumput dan kelompok perlawanan bersenjata yang dan tersebar di seluruh wilayah Papua Barat.

Indonesia sangat merasa terancam bahwa KNPB dengan damai dan bermartabat berkali-kali menuntut hak penentuan nasib sendiri yang diatur secara hukum internasional itu bisa dilakukan dilakukan di Papua Barat melalui jalur referendum yang fair. KNPB melalui pembentukan Internasional parliamentarians for West Papua (IPWP) dan International Lawyers for West Papua (ILWP) terus menggugat kejahatan Indonesia dalam praktek one man one vote (pepera 1969) yang dicederai oleh nafsu ekonomi politik Indonesia.

Perlawanan damai dan bermartabat melalui seminar, demo, jumpa pers serta ibadah yang dilakukan KNPB bersama rakyat Papua Barat dianggap Indonesia sebagai senjata ampuh yang dapat merongrong kekuasaan kolonialismenya diatas tanah Papua Barat.  Sehingga, Indonesia menempuh berbagai macam siasat yang dapat memandamkan giroh perlawanan yang dilakukan KNPB.

Pimpinan KNPB, mulai dari Buchtar Tabuni, Mako Tabuni, Victor Yeimo dan anggota-anggotanya sudah masuk keluar penjara namun tidak membuat perjuangan mundur dan kendor. Cara satu-satunya adalah Indonesia mengambil sikap untuk membunuh pimpinan-pimpinan KNPB. Untuk membunuh pimpinannya, Indonesia dengan bantuan media lokal seperti Bintang Papua dan Cepos menyampaikan berita-berita bohong yang menyudutkan KNPB sebagai pengacau, pembunuh, teroris dan berbagai macam label buruk.

Label-label buruk yang dialamatkan tanpa bukti itu dimulai dari peristiwa tertembaknya Mako Tabuni. Mako Tabuni yang adalah ketua I KNPB pada pertengahan tahun 2012, tepatnya tanggal 14 Juni ditembak mati oleh Densus 88 Polda Papua. Mako seperti yang diberitakan oleh Polisi dan Media lokal bahwa dirinya terlibat dalam pembunuhan warga Jerman Dietmer Pieter dan rangkaian peritiwa penembakan lainnya di kota Jayapura. 
Namun hingga Mako ditembak mati Polisi tidak menunjukan bukti-bukti keterlibatan Mako Tabuni. Polisi justru merekayasa kronologis penembakan Mako Tabuni, bahwa Mako ditembak karena hendak melawan, merampas senjata, dan melarikan diri. Padahal, kenyataanya Mako Tabuni tidak melakukan perlawanan, merampas senjata atau melarikan diri.

Setelah tewasnya Mako Tabuni, pembunuhan kilat terus terjadi kepada anggota KNPB. Di Fak-fak, 2 anggota KNPB dibunuh oleh Polisi Indonesia. Penembakan juga terjadi pada massa pendemo dimana polisi menembak massa pendemo di Kampung Harapan Sentani 4 Juni 2012. Akibatnya, 4 orang korban ditembak polisi Indonesia. Polisi sengaja memblokade pendemo agar terjadi chaos dan mereka dengan mudah dapat menembak aktivis KNPB.

Setelah Tito Karnavian diganti, Polda Papua menggunakan metode skenario yang sama. Tito Karnavian menggunakan metode bunuh dan basmi namun di media ia mencari simpati rakyat melalui kegiatan bagi-bagi sembako dan uang ke basis-basis yang mendukung KNPB.

Rekayasa Bom dilakukan oleh Densus 88 di Wamena agar aktivis-aktivis KNPB di Wamena dapat dilabeli sebagai teroris. Pada 29 September 2012, Polisi sengaja menaruh Bom di Sekretariat KNPB dan menuduh pengurus KNPB dan anggotanya sebagai pelaku peledakan di kantor DPRD Jayawijaya dan Pos Polisi di Jalan Irian. Padahal menurut pengakuan warga, di Pos Polisi Jalan Irian Polisi sengaja menaruh bom dan meladakannya, dan para pendatang yang berada di dekat pos polisi dikondisikan untuk ditutup sebelum meledak.
Rekayasa itu sudah terbaca jelas, dimana polisi melalui orang-orang piaraannya  menaruh bom pada hari penggrebekan di Sekretariat KNPB Baliem. 13 anggota KNPB ditangkap dan sampai saat ini status mereka tidak jelas, proses hukumnya juga tidak jelas karena polisi belum mengungkapkan bukti-bukti untuk memberatkan mereka. Sedangkan, Simion Dabi (ketua KNPB Baliem) dan beberapa anggota lainnya didaftar sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO) tanpa alasan kasus yang jelas.

Penangkapan dan pembunuhan kembali terjadi lagi terhadap Simion Dabi pada tanggal 15 Desember 2012 kemarin bersama kawan-kawannya. Hubertus Mabel ditembak mati bersama Natalis Alua yang masih Koma. Adalah upaya polisi dan Densus 88 membungkam gerakan perlawanan KNPB dan bagian dari operasi lanjutan sejak Mako Tabuni dibunuh. Penembakan terhadap Hubertus Mabel erat kaitannya dengan upaya balas dendam atau upaya memenuhi rasa keadialan korban 3 aparat kepolisian di Pirime yang ditembak mati oleh TPN.OPM pimpinan Okiman Wenda.

Hubertus dibunuh dan dikaitkan sebagai pelaku penyerangan polsek Pirime adalah tidak benar. Sebab, Hubertus berada jauh dari tempat kejadian, yaitu di Kurulu kampung halamannya. Dari KNPB Pusat, Hubertus dimandati untuk melakukan konsolidasi anggota militan KNPB untuk pengamanan internal dan dalam perjalanannya Hubertus tidak ada hubungan dengan penyerangan yang dipimpin Okiman Wenda. Huber juga dalam posisi merayakan natal bersama keluarga di Kurima, kampung halamannya.

Rentetan penembakan terhadap aktivis dan pengurus KNPB menunjukan bahwa polisi melakukan operasi tumpas terhadap aktivis KNPB dan organisasinya. Beberapa waktu yang lalu, telah diungkapkan oleh salah satu anggota Polisi bahwa penembakan terhadap aktivis Papua adalah operasi rahasia yang disebut “operasi gerilya” yang dibuat dan diperintah langsung dari Jakarta melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sandi “hilang jangan tanya”.
Share this article :

0 Komentar Anda:

Post a Comment

Your Comment Here

Recent Posts

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger