Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat. Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini: Please donate to the Free West Papua Campaign U.K. Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya. Peace ( by Voice of Baptist Papua)
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua
Written By Voice Of Baptist Papua on July 4, 2012 | 9:09 PM
Konflik kekerasan di
West Papua bukan hal baru. Setengah abad lebih, sejak Indonesia
menguasai wilayah ini, West Papua telah menjadi ladang pembantaian dan
eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA). Sudah waktunya, semua pihak, baik
penguasa Indonesia, penguasa negara-negara di dunia maupun PBB menyadari
akar permasalahan West Papua dan mendorong proses penyelesaian secara
damai, demokratis dan final melalui referendum.
Dunia harus memahami akar persoalan di Papua yang menyebabkan krisis
kemanusiaan dan eksploitasi besar-besaran, bahwa persoalan mendasar
rakyat pribumi West Papua adalah keinginan untuk menentukan nasib
sendiri, sedangkan Indonesia bekeinginan untuk menguasai wilayah ini,
dan memusnahkan pemilik wilayah ini.
Dua keinginan itu tidak akan pernah disatukan bersama melalui proses
pendekatan dalam kerangka negara Republik Indonesia. Bila itu
dipaksakan, konflik kemanusiaan dan ekploitasi SDA akan terus
berlangsung. Itu berarti negara Indonesia dan dunia sengaja membiarkan
dan mendorong pemusnahan orang pribumi West Papua dengan tujuan
menguasai wilayah ini.
Rakyat West Papua sudah memahami bahwa, sangat tidak mungkin konflik
kekerasan dibawa penguasa yang menjajah diselesaikan melalui hukum
penjajah. Bagaimana mungkin pelaku mengadili pelaku? Dan bagaimana
mungkin penguasa mengakui dan menghentikan niatnya? Itu hal yang tidak
mungkin, karena penguasa akan terus melakukan pembenaran dengan kekuatan
media dan diplomasi negara, sehingga dunia tertipu dan saling menipu.
Bahwa sejak awal, sebelum Indonesia menguasai wilayah ini, orang
pribumi West Papua telah berikrar untuk menentukan nasib mereka sendiri.
Hak penentuan nasib sendiri itu telah dimanipulasi melalui pelaksanaan
Pepera pada tahun 1969 yang keliru dan sangat menciderai hak-hak orang
Papua, bahkan standar-standar dan prinsip-prisip hukum dan HAM PBB.
Hak penentuan nasib sendiri tidak terjadi, dan orang West Papua sejak
saat itu berjuang agar hak itu dilakukan kembali. Sejak itu juga,
ribuan orang telah menjadi korban militer Indonesia, ribuan telah
mengungsi keluar dan masih tinggal di camp-camp pengungsi.
Sampai saat ini, di zaman yang terbuka, orang West Papua secara
damai, terbuka dan bermartabat menuntut hak penentuan nasib sendiri
melalui aksi-aksi damai, namun penguasa Indonesia dengan kekuatan
militernya terus menangkap, mengejar dan membunuh rakyat dan
pejuang-pejuang West Papua.
Saatnya dunia mendengar West Papua, melihat West Papua dan bicara
untuk West Papua. Saatnya dunia mendesak PBB bertanggung jawab atas
sengketa wilayah West Papua yang belum selesai dibawah hukum
internasional. Saatnya PBB menggelar referendum yang damai, demokratis
dan final demi keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian dunia.Victor Yeimo (Jubir Internasional KNPB)
KNPBnews – Rakyat
Papua dengan penuh kesungguhan dan secara bermartabat berniat agar hak
penentuan nasib sendiri dilakukan kembali secara damai, demokratis dan
final, karena itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus membuka diri
membahas materi pelaksanaan referendum di Papua.
Hal itu dikemukakan oleh Juru Bicara
Internasional Komite Nasional Papua Barat [KNPB], Victor Yeimo di
Jayapura Kamis, (5/7) dalam menanggapi gejolak konflik yang kian memanas
dan belum mampu mencari titik penyelesaian final. Menurutnya, KNPB
selaku media nasional rakyat Papua Barat telah mendesain tahapan menuju
referendum.
“Saya pikir Jakarta terlalu boros mengeluarkan uang banyak untuk
biaya operasi militer, operasi intelijen, juga operasi pemerintahannya
di Papua, smua tak akan brarti karena pada dasarnya rakyat Papua ingin
menentukan nasib mereka sendiri karena faktor Pepera 1969 tidak final,
karenanya KNPB mendesain tahapan dan materi referendum dan kami mau Sby
membuka diri membahas materi referendum untuk mencari solusi final”
ujarnya di sela-sela jumpa pers bersama wartawan.
Kata Victor, KNPB bersama Parlemen Nasional West Papua [PNWP] dari
22 Parlemen di setiap Daerah selaku wakil rakyat bangsa Papua dalam
waktu dekat akan memplenokan draf materi referendum.
“Kami bersama PNWP dalam waktu yang tidak terlalu lama akan
memplenokan draf referendum yang akan disahkan oleh Parlemen Nasional
sebagai keputusan resmi rakyat Papua Barat”, katanya.
Menanggapi pernyataan penolakan referendum oleh Presiden Sby beberapa
waktu lalu, Victor justru menilai pernyataan tersebut menunjukan watak
kolonialisme yang anti demokrasi dan HAM. “Itu pernyataan yang anti
demokratsi dan HAM, dan menunjukn watak kolonialisme yang oportunis,
yang mengedepankan kepentingan ekonomi politik kolonial dari pada
nilai-nilai universal setiap bangsa”, tandasnya.
Ia berpendapat RI sebagai anggota PBB harus patuh terhadap
prinsip-prinsip kepatuhan dalam menyelesaian konflik wilayah secara
damai, karena Indonesia juga meratifikasi resolusi PBB tentang hak
penentuan nasib sendiri, dan menurutnya, hak itulah yang harus
diakomodir melalui referendum.
Di hadapan 1.100 pasis TNI- POLRI di Secapa TNI AD, Bandung, Jumat 29
Juni 2012 itu, SBY dengan tegas menyatakan, “Tidak ada referendum,
serta Papua dan Papua Barat merupakan wilayah kedaulatan NKRI yang sah
sampai titik darah penghabisan.” (wd/wl)
Written By Voice Of Baptist Papua on July 3, 2012 | 2:33 AM
Yogyakarta Voice Baptis,--- Puluhan Mahasiswa
Papua di Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua ( AMP )
kembali melakukan aksi demo menuntut " Pengakuan Kedaulatan Negara West
Papua Papua Oleh Indonesia dan PBB, pada hari ini ( Senin, 02 Juli 2012
) di Kantor Pos Besar Yogyakarta.
Aksi Demo ini merupakan aksi penyikapan Mahasiswa Papua di Yogyakarta dalam rangka memperingati HUT Proklamasi West Papua yang ke - 41. Berikut Pernyataan Sikap Aliansi Mahasiswa Papua Yogyakarta
Sejarah buram keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB] dalam mengkebiri hak-hak demokratis Rakyat Papua untuk Menentukan Nasib Sendiri sebagai sebuah Negara-Bangsa yang Merdeka, telah jelas mengakibatkan terjadinya pelanggaran berat terhadap Hak – Hak Dasar Rakyat Papua hingga saat ini. Yang mana dalam penandatanganan New York Agreement (Persetujuan New York) antara Indonesia dan Belanda yang disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa, U Thant dan Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Ellsworht Bunker pada tanggal 15 Agustus 1962.
Beberapa hal pokok dalam perjanjian serta penyimpangannya (kejanggalan) adalah sebagai berikut: New York Agreement (Persetujuan New York) adalah suatu kesepakatan yang tidak sah, baik secara yuridis maupun moral. Persetujuan New York itu membicarakan status wilayah dan nasib Bangsa Papuat, namun di dalam prosesnya tidak pernah melibatkan wakil-wakil resmi bangsa Papua.
Sejak 1 Mei 1963, bertepatan dengan berakhirnya masa pemerintahan Unites Nations Temporrary Executive Administratins (UNTEA) atau Pemerintahan Sementara PBB di Papua, kemudian menyerakan kekuasaanya kepada Indonesia, selanjutnya pemerintah Indonesia mulai menempatkan pasukan militernya dalam jumlah besar di seluruh Tanah Papua, akibatnya hak-hak politik dan Hak Asasi Manusia dilanggar secara tidak wajar.
Sekretaris Jenderal PBB pada masa itu U Thant telah mendapat laporan tentang situasi teror dan intimidasi yang dialami Rakyat Papua sebelum PEPERA dilakukan Juli-Agustus 1969 tapi tidak menjadi perhatian serius dan diabaikan oleh PBB. Dan PBB lebih mempercayai laporan Indonesia yang memiliki kepentingan untuk memenangkan PEPERA pada waktu itu.
Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) 1969 dilaksanakan dengan cara lokal Indonesia, yaitu musyawarah oleh 1025 orang dari total 600.000 orang dewasa laki-laki dan perempuan. Sedangkan dari 1025 orang yang dipilih untuk memilih, hanya 175 orang saja yang menyampaikan atau membaca teks yang telah disiapkan oleh pemerintah Indonesia.
Dengan melihat berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui Aparat Militernya ( TNI/POLRI ) sejak diserahkannya kekuasaan atas Papua oleh PBB kepada Indonesia pada 1 Mei 1963, maka munculah berbagai gerakan Perjuangan Kemerdekaan yang dilakukan oleh rakyat Papua di berbagai daerah di Papua. Gerakan Perjuangan Kemerdekaan yang dilakukan oleh Rakyat Papua ini pertamakali dilakukan pada tanggal 28 juli 1965 dengan melahirkan Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) di Manokwari sebagai Organisasi Perjuangan Kemerdekaan Papua.
Dengan meluasnya Gerakan Perjuangan Kemerdekaan di seluruh Papua, maka pada tanggal 1 Juli 1971 Organisasi Papua Merdeka ( OPM ) Memproklamasikan Kemerdekaan West Papua di Desa Waris, Hollandia “ Vicktoria ”.
Dengan melihat catatan Sejarah Rakyat dan Bangsa West Papua yang terus berjuang hingga saat ini dan bertepatan dengan peringatan hari Proklamasi West Papua yang ke – 41 pada 1 Juli 2012, maka kami Aliansi Mahasiswa Papua ( AMP ) Komite Kota Yogyakarta Menuntut “ Indonesia dan PBB Segera ! Mengakui Kedaulatan Negara West Papua ” dan Menyatakan sikap 1 Juli 1971 adalah Hari Proklamasi Negara West Papua, Stop! Paksakan Bangsa Papua Menjadi Indonesia, Bangsa Papua Menolak Dialog dan Segala Produk Politik Indonesia di West Papua, Indonesia Segerah Angkat Kaki Dari West Papua dan Segerah Akui Kemerdekaan West Papua.
Dan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) untuk segera mengakui kedaulatan Negara West Papua.
Sumber: AMP Jogya
Written By Voice Of Baptist Papua on June 13, 2012 | 2:23 AM
"Anda Orang Papua! Menuntut "REFERENDUM" Pasti Pemerintah anggap Melanggar Hukum serta Anda di jerat dengan Pasa Makar"
London – Kepulauan Falkland yang
diperebutkan Inggris dan Argentina, akan menggelar referendum untuk menentukan
statusnya pada 2013 mendatang.
Penduduk Falkland, lanjutnya, ingin pulau itu
tetap memiliki status otonomi daerah, yang bagian dari Overseas Territory
Kerajaan Inggris.
Masalah status wilayah hampir sama dengan papua ( UU Otsus 2001), Pro - kotra status otonomi khusus bagi provinsi papua tidak kalah dengan perebutan dan pro-kontra status Falkland Uk.
Namun jika papua diminta referendum dianggap sebagai bentuk pelanggaran hukum, padahal negara demokrasi di dunia referendum sebagai satu media yang paling demokratis di dunia.
Referendum untuk menentukan status politiknya itu
merupakan upaya untuk menghentikan perebutan atas kepulauan tersebut antara
Inggris dengan Argentina.
“Kami memutuskan, dengan dukungan sepenuhnya
pemerintah Inggris, untuk menggelar referendum,” ujar Gubernur Falkland Gavin
Short.
Short menyatakan, penduduk teritori Inggris yang
secara geografis terletak dekat Argentina itu tak mau wilayah mereka dikuasai
Buenos Aires.
Written By Voice Of Baptist Papua on March 21, 2012 | 6:50 PM
Numbay West Papua_20 Maret 2012, KNPB sebagai media nasional rakyat
bangsa Papua, kembali mediasi sepuluh ribuan demontran di Numbay, dalam
Rangga Penolakan kedatangan sekretaris PBB Ban Ki Moon di Indonesia, dan
Menuntut Referendum ulang bagi bangsa Papua Barat.
JAYAPURA - Ribuan massa dari Komite Nasional Papua
Barat (KNPB) melakukan demo menolak kedatangan Sekretaris Jenderal
(Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Jakarta dan menuntut kepada
PBB segera bertanggungjawab atas integrasi Bangsa Papua Barat ke dalam
pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya demo
KNPB yang biasanya damai, maka kemarin mulai berubah menjurus jadi
anakis. Seperti yang dilakukan di Expo sekitar Pukul 13.15 massa KNPB
yang melakukan demo di daerah Expo-Waena melakukan pengrusakan satu
truck Polisi Dalmas Polresta Jayapura Kota, dimana mengakibatkan kaca
mobil truck polisi Dalmas mengalami keretakan yang sangat parah. Sekitar
Pukul 15.00 massa KNPB yang dari arah Expo-Waena tiba didepan Kantor
Pos Abepura atau Toko Citra melakukan aksi pelemparan batu ke arah
kantor atas toko tersebut, yang dimana mengenai para pegawai Kantor Pos
Abepura, warga yang tinggal di belakang Toko Citra. Bahkan wartawan
media cetak dan elektronik yang mana saat melakukan peliputan aksi demo
tersebut tak luput dari kejaran massa. Akibat dilempari massa kaca
jendela dan kaca pintu utama dari Kantor Pos Abepura mengalami retak. Massa
KNPB yang menggelar demo dengan berjalan kaki dari Waena menuju kantor
Majelis Rakyat Papua (MRP) tepat pukul 15.11 WIT kemarin sore, Selasa
(20/03/2012). Massa yang dipimpin langsung Ketum KNPB Pusat, Buktar
Tabuni melakukan orasinya menyatakan pernyataan politiknya di depan
halaman kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura, dikarenakan
tujuan demo KNPB sebenarnya adalah mendemo kantor MRP, namun massa KNPB
memadati sepanjang ruas badan jalan didepan kantor Polsekta Abepura atau
Kantor Pos Abepura.
Pendemo langsung tumpah ruah di depan Kantor Kantor MRP atau Kantor Pos
Abepura. Massa KNPB dalam orasinya yang disampaikan Buktar Tabuni itu,
intinya menolak kedatangan Sekjen PBB yakni Ban Kie Moon ke Indonesia
sebelum hak untuk menentukan nasib sendiri (Self Determination) atau
menuju Referendum ulang bagi Bangsa Papua Barat. Mereka menyatakan,
PBB segera bertanggungjawab atas pencaplokan wilayah Bangsa Papua Barat
ke dalam pangkuan NKRI melalui PEPERA 1961 dan PBB segera hentikan
kerjasama bilateral dengan Pemerintah Indonesia serta stop (baca,
menghentikan) stigmanisasi Bangsa Papua Barat sebagai separatis, makar
maupun gerakan pengacau keamanan (GPK) dari Pemerintah Indonesia. “Kami
rakyat Bangsa Papua Barat menuntut Referendum, perjuangan kami Bangsa
Papua Barat adalah perjuangan untuk membebaskan diri dari segala bentuk
penindasan dan eksploitasi diatas Bumi Cenderawasih ini, Pemerintah
Indonesia segera mengangkat kaki dari wilayah Negara Papua Barat dalam
waktu dekat ini dan tanpa syarat,” teriak massa pendemo dengan perkataan
Papua Merdeka dan sambil mengangkat tangan sebelah kiri yang merupakan
bentuk perlawanan massa KNPB. Massa KNPB yang datang berdemo didepan
kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura kemarin siang hingga
sore hari, terdiri atas berbagai kelompok massa KNPB termasuk unsur
pergerakan KNPB yakni PRD Numbay dan PRD Tabi. Dalam berdemo di
depan Kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura massa KNPB
meluapkan segala emosinya hingga mencela Negara Amerika Serikat sebagai
Bangsat dan Negara Indonesia dihapuskan diatas Tanah Papua Barat ini.
Dalam orasi politik yang disampaikan oleh Mama Tiom dikatakan, bahwa
kami ingin merdeka dan terbebas diri dari penderitaan bangsa rakyat
Papua Barat yang telah dijajah oleh Negara Indonesia. “Kami ingin
meminta kemerdekaan secara penuh dan mengembalikkan hak politik serta
ingin berdiri sendiri,” katanya. Pernyataan sikap yang sama
disampaikan juga oleh Sebby Sambom. Isi pernyataannya sama yakni
menuntut kemerdekaan Bangsa Papua Barat. Bahwa kita harus berfikir untuk
berjuang meraih kemerdekaan tanpa hentinya sampai titik darag
penghabisan hingga datang waktunya kita menentukan nasibnya sendiri
(Self Determination). Sedangkan orasi dari salah satu tokoh mantan
Tapol/Napol Papua Barat yakni Saul Bomay dikatakannya, bahwa Tapol/Napol
merupakan OPM-nya politik, sedangkan TPN merupakan militernya OPM. Kami
berjuang untuk kemerdekaan bangsa Papua, maka itu kita harus bersatu
hingga kita pasti bisa merdeka. Massa terus melakukan orasi
Politiknya didepan ruas badan jalan Kantor Polsekta Abepura atau kantor
Pos Abepura, hingga jalan raya yang menghubungkan antara Kotaraja,
Abepura dan Waena ini ditutup untuk umum demi keamanan dan mengalami
kemacetan yang sangat panjang, masyarakat pengguna jalan yang akan
melintas jalan tersebut, sehingga demo berakhir tepat pukul 18.00 Waktu
Papua. KNPB dalam pernyataan sikapnya, menyampaikan beberapa hal
terkait keinginan dari rakyat Bangsa Papua Barat yang dijadikan sebagai
suatu tuntutan, dan tuntutan tersebut adalah, dimana Pemerintah
Indonesia diminta segera melakukan Referendum di atas Tanah Papua,
dengan tegas menolak kedatangan Sekjend PBB, Ban Kie Moon ke Indonesia,
PBB harus bertanggungjawab atas pencaplokan wilayah dari Bangsa Papua
Barat kedalam Pangkuan NKRI dan mendesak masyarakat dunia Internasional
dan IPWP atau ILWP untuk menekan PBB, sehingga Bangsa Papua Barat dapat
menentukan nasibnya sendiri melalui mekanisme Referendum Bangsa Papua
Barat. Pantauan Bintang Papua demo ini dimulai dari berkumpulnya
beberapa orang di depan Terminal Expo, sekitar pukul 10.15 WIT, sambil
membentangkan spanduk yaitu Referendum bagi Bangsa Papua Barat dan
sejumlah spanduk lainnya yang bertuliskan Bahasa Inggris. Selain itu,
sekitar empat orang perwakilan dari KNPB dibawah pimpinan Mako Tabuni
(Ketua I KNPB) setibanya di Pangkalan Taxi Perumnas III, Waena langsung
melakukan penggalangan massa baik mengajak dari kalangan masyarakat
maupun mahasiswa yang berada disekitar lokasi tersebut, guna ikut
melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP)
untuk menolak kedatangan Sekjend PBB, Ban Kie Moon ke Indonesia serta
meminta penentuan nasib sendiri maupun menuntut Referendum atas Bangsa
Papua Barat. Dan usai aksi demo didepan kantor MRP, Ketua I KNPB
Pusat, Buktar Tabuni melakukan jumpa pers dalam intinya menolak
kehadiran Ban Kie Moon dan meminta maaf atas perlakuan dari anggota KNPB
terhadap wartawan media cetak dan elektronik baik itu media lokal
maupun media nasional. Massa yang berjumlah 500-an orang ini langsung
melakukan longmarch atau berjalan kaki dari Expo, Waena menuju Abepura
yakni tepatnya di Kantor MRP, dimana aksi demo tersebut dibawah pimpinan
Buktar Tabuni dan Mako Tabuni bergabung dengan massa pendemo lainnya.
(CR-36/ven/don/l03)
Written By Voice Of Baptist Papua on March 15, 2012 | 7:26 AM
Demo KNPB Tolak kedantangan Sekjend PBB (Foto: Arnold Belau/SP)
Jayapura Papua voice,-- Ribuan
massa Komite Nasional Papua Barat (KNPB), siang tadi, Kamis (15/3) melakukan
aksi demo damai menolak kedatangan Sekertaris Jenderal Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Ban Ki Moon ke Indonesia, dengan menduduki jalan raya Abepura,
Jayapura, tepatnya di depan kantor MRP Papua.
Kepada wartawan, Ketua KNPB,
Buctar Tabuni mengatakan, KNPB melakukan aksi demo sebagai bentuk penolakan
terhadap rencana kedatangan Sekjen PBB pada 19 Maret 2012 mendatang yang
tentunya akan menguntungkan pemerintah Indonesia.
“Tidak hanya di Jayapura saja,
aksi penolakan kedatangan Sekjen PBB juga berlangsung di beberapa kota di
Papua, dan diluar tanah Papua,” jelas Tabuni.
Written By Voice Of Baptist Papua on February 27, 2012 | 1:29 AM
M
Group KNPB
SBP-JAYAPURA,- The National Committee of West Papua (KNPB) plans to stage a big rally on Tuesday (Feb 28) related to the launch of the International Parliamentarians for West Papua (IPWP) for Pacific region in Australia’s Parliament House.
“Through this national rally we ask for support from international community. We also give support to the International Lawyers for West Papua (ILWP) and the International Parliamentarians for West Papua (IPWP), which always support West Papua,” Spokesperson of KNPB, Jeffry Tabuni, said as quoted by Bintang Papua.
Jeffry said that tomorrow KNPB will mobilize Papuan people in West Papua to join the national rally. The name ‘West Papua’ in KNPB’s term refers to the whole of the western half of New Guinea Island, which is now divided into two provinces (Papua province and West Papua province) by Indonesian Government.
Written By Voice Of Baptist Papua on February 19, 2012 | 8:39 PM
Socratez Sofyan Yoman (foto pgbp)
Duta Besar Pemerintah Amerika Serikat untuk Indonesia, pada bulan
Juni 1969 kepada anggota Tim PBB, Dr. Fernando Ortiz Sanz, secara
rahasia mengakui: “ 95% orang-orang Papua mendukung gerakan kemerdekaan
Papua.” (Sumber Dok: Jack W.Lydman’s Report, Juli 18, 1969, in AA).
Sedangkan, Dr. Fernando Ortiz Sanz, perwakilan PBB untuk mengawasi
pelaksanaan PEPERA 1969 melaporkan: “Penjelasan orang-orang Indonesia
atas pemberontakan Rakyat Papua sangat tidak dipercaya. Sesuai dengan
laporan resmi, alasan pokok pemberontakan rakyat Papua yang dilaporkan
administrasi lokal sangat memalukan. Karena tanpa ragu-ragu, penduduk
Irian Barat dengan pasti memegang teguh berkeinginan merdeka” (Laporan
Resmi Hasil PEPERA 1969 Dalam Sidang Umum PBB, alinea 164, 260). Lebih
tegas, Fernando Ortiz Sanz, menyatakan: “Mayoritas orang Papua
menunjukkan berkeinginan untuk berpisah dengan Indonesia dan mendukung
pikiran Negara Papua Merdeka.” ( Dokumen resmi PBB, Annex I, A/7723,
alinea, 243, hal. 47).
Written By Voice Of Baptist Papua on December 24, 2011 | 4:12 AM
Front Pembela Islam
Jakarta (SI ONLINE) - To defend the land of
Papua from the Republic of Indonesia's lap, the government asked to not be
afraid violate Human Rights (Human Rights). "No need to fear is also at
the International Criminal Court (ICC)", said former Chairman of Legal Aid
Foundation, Munarman, Kemenhan Office, Jakarta, Friday (23/12/2011).
The reason, said Munarman, as
long as the United States is actually the most widely violated human rights.
Even when prompted Munarman expressed his willingness to defend the state when
brought to the Court of Human Rights.
Treat as opposed to human
rights, further Munarman, actually done by the enemies of this country. DPP
Chairman Nahi Munkar FPI field is pointed out, in Papua MER-C makes health
clinic but were not given permission. Yet this effort to preserve and maintain
Papua.
Written By Voice Of Baptist Papua on December 19, 2011 | 6:08 PM
Victor Yeimo, Jubir KNPB (Foto: Ist)
PAPUAN,
Jayapura --- West Papua National Committee (KNPB) saw Tri People's
Command (Trikora) December 19, 1961 with a very clear violation of the
implementation of the UN Charter Article 73, which Indonesia as part of
decolonization commission should respect the declaration of independence
of West Papua December 1, 1961.
"KNPB
demanding solidarity countries, including members of the UN
Decolonization Committee in order to register the territory of West
Papua into the UN decolonization list for West Papua is also a colony
that has not its own sovereign."
This
was conveyed by Victor Yeimo, KNPB International spokesman, when
contacted Papua Voices, this afternoon, Monday (19/12) of Germany.
According
Yeimo, Indonesia has been forced through Trikora and annexed the
territory of West Papua into the Republic of Indonesia with a
militaristic manner.
The U.S. President Barack Obama has discussed moves towards greater military cooperation with Indonesia during the ASEAN summit in Bali. Mr Obama is the first American president to attend and he has already had private discussions with the Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono. President Obama says they have agreed to put more than half a billion dollars towards increasing sustainable development, health care and other services in Indonesia. He says the U.S. will also provide more support and training for the Indonesian military. "It helps Indonesia play an active role in promoting security in the region," he said. It is a move that is likely to annoy China, which has been critical of plans to temporarily base 2500 U.S. troops in Australia over five years. [1] The plan has been criticised by China, and caused friction at a meeting of South-East Asian leaders in Bali. Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono said he had received assurances from both the U.S. and Australia that the move would not threaten his nation's integrity or sovereignty. "On the establishment of that military base, it's not expected to change anything. or disturb Australia's neighbours," he told reporters on Saturday evening. "He gave me his guarantee," Dr Yudhoyono said, in reference to talks he held with U.S. President Barack Obama on the sidelines of the ASEAN summit on Saturday. "So too did Julia Gillard," he said.[2]
Written By Voice Of Baptist Papua on November 15, 2011 | 5:34 PM
http://www.intelijen.co.id - Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Marty Natalagewa harus menyatakan protes atas pernyataan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang khawatir kondisi HAM di Papua.
"Pernyataan Hillary sudah intervensi AS ke Indonesia," kata pengamat intelijen AC Manullang seperti diberitakan indonesiatoday.in, Senin, 14 November 2011.
Menurut AC Manullang, Pemerintah AS sudah menerapkan strategi HAM untuk melepaskan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "HAM akan dijadikan alasan AS mengajukan referendum bagi rakyat Papua," jelasnya.
JAYAPURA - Ribuan rakyat Papua yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Senin sore tadi melakukan aksi long march sepanjang 15 kilometer guna menuntut referendum bagi masyarakat Papua. Aksi long march dari Distrik Abepura menuju Kota ...
Seorang anggota brimob asal Papua menampilkan tarian asli Papua pada saat puncak acara Hut Brimob ke- 66 yang berlangsung di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok,Senin (14/11). FOTO : Muhammad Iqbal/JPNN JAYAPURA - Sebagaimana yang telah direncanakan ...
Jayapura, Aksi tuntutan dan demontrasi di jayapura ibu kota provinsi papua benar – benar melumpuhkan aktivitas perekonomian kota jayapua, aksi ini dipimpin oleh Komitte Nesional Papua barat (KNPB) berjumlah sekitar ribuan rakyat papua.14/11
Aksi demonstrasi ini dilakukan dengan berjalan kaki 17 kilo meter dari waena –abepura kota jayapura. dalam orasinya coordinator KNPB Mako Tabuni menekankan, Tuntutan Referendum dan Kemerdekaan bangsa papua adalah bukan segelintir orang, anda melihat sendiri bahwa tuntutan kemerdekaan adalah rakyat papua, bukan segelintir orang, kami menolak dengan tegas isu dialog dan UP4B, tawaran Jakarta bukan sesuai aspirasi rakyat papua,
Aspirasi rakyat papua adalah merdeka bukan dialog atau UP4B, Papua adalah satu bangsa yang harus di akui oleh dunia, kami bukan bagian dari Indonesia sehingga Indonesia harus mengakui papua sebagai bangsa yang besar dan berdaulat, katanya
Written By Voice Of Baptist Papua on November 10, 2011 | 5:36 PM
Please contact your representative to urge him or her to sign on to the Dear Colleague letter currently being circulated in the House by Congressmember Faleomavaega on rights violations in West Papua. The deadline is short (Thursday, November 10 at noon). So please call right away. This letter is only circulating in the House of Representatives.
This published Etannews You can reach your Representative via the Congressional Switchboard - (202) 224-3121. To find out who your Rep. is go to http://www.congress.org/congressorg/directory/congdir.tt .
Call your Rep.'s office and ask for the Foreign Policy aide. Ask him or her to have the representative sign Congressmember Faleomavaega's Dear Colleague letter to President Obama urging him to raise concerns about human rights violations in the Indonesian provinces of Papua and West Papua with Indonesia's President Susilo Bambang Yudhoyono.
JAYAPURA, KOMPAS.com —Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyatakan, referendum adalah solusi bagi masalah Papua. Koordinator Umum KNPB Victor Kogoya, Rabu (9/11/2011) di Abepura, Papua, mengatakan, referendum merupakan hak politik rakyat Papua.
Dalam jumpa pers yang digelar untuk mengawali rencana unjuk rasa pada 14 November nanti, Victor Kogoya mengatakan, rangkaian kekerasan terus dialami rakyat Papua sejak wilayah itu diambil alih oleh Indonesia. Hingga saat ini, rakyat Papua terus dideskreditkan dengan stigma separatis.
Dalam kajian KNPB, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 adalah akar persoalan dari semua rentetan peristiwa berdarah di Papua. Untuk itulah, menurut Victor Kogoya, perlu referendum ulang di Papua.
Jika saat Pepera digelar sekitar 1.000 orang mewakili sekitar 800.000 warga Papua,
Written By Voice Of Baptist Papua on September 5, 2011 | 4:26 AM
Papua has once again come under not only the national but also the international spotlight. The situation was exacerbated by a leaked document about the Indonesian Army titled Autonomy of Papuan Separatists, on the Internet.
Many human rights activists were quick to voice criticism over the report. E. Pearson from the Human Rights Watch, for instance, wrote a subtle piece in the Huffington Post on Aug. 20, in which he clearly argues that the acts of some international supporters of Papuans are legitimate and lawful as they were not intended to harm Indonesia’s national integrity.
Certainly, in terms of human rights protection, an international cooperation should be deemed legal and legitimate, as in no matter what circumstances, human rights should be protected.
Nevertheless, the current discussion over the situation in Papua would not be sufficient to answer another significant issue in Papua of whether or not a group of indigenous Papuans, such as the Free Papua Organization (OPM), could take up arms and wage a lawful “battle for self-determination”.
Written By Voice Of Baptist Papua on September 3, 2011 | 7:37 PM
Opini,
by, Turius Wenda
TERBENTUKNYA PULAU PAPUA (GEOLOGY PAPUA)
Pada mulanya pulau Papua merupakan dasar lautan Pasifik yang paling dalam dan juga merupakan lempeng Australia (lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar lautan Pasifik tetapi akibat adanya pertemuan/tumbukan lempeng (tektonik lempeng) antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik sehingga terangkatnya lempeng Australia menjadi pulau di bagian Utara Australia. Pertemua/tubukkan lempeng ini sehingga menyebabkan terbentuknya gugusan pegunungan Tengah dan gugusan pegunungan di wilayah Kepala Burung. (Hamilton, 1979; Dow et al., 1988).
Papua merupakan lempeng Australia sehingga dapat ditemukan berbagai jenis bebatuan yang mirip antara Australia dan Papua.
Proses pengangkatan pulau Papua dari Dasar lautan Pasifik sehingga kini telah ditemukan berbagai kerang (bia) dan pasir laut di berbagai wilayah pegunungan Tengah dan Pegunungan Kepala Burung. Akibat pengangkatan ini akhirnya pulau Papua mulai terhubung dengan benua Australia sehingga mulai terjadi migrasi Hewan dan Manusia dari daratan Australia ke wilayah Papua sebelum terjadinya pencairan es di kutub akibat adanya pemanasan global.
Proses geologi Papua ini baru terjadi sekitar 60an jutaan tahun silam sehingga masih bisa ditemukan kerang di wilayah daratan Papua.
A leaked report from the notorious Indonesian special forces unit Kopassus detailing information about the West Papuan independence movement has drawn attention to Indonesia's brutal occupation of the region.
The report is titled “Anatomy of Papuan Separatists” and is believed to have been written in 2009. It profiles opponents of Indonesian rule, including political activists and guerilla fighters.
It also listed foreign politicians and journalists who supported Papuan liberation.
Indonesia occupied West Papua in 1963. The Suharto dictatorship organised a fraudulent “act of free choice” in 1969, in which a small number of handpicked Papuans voted to support Indonesian rule.
The Kopassus report acknowledges that West Papuans do not identify as Indonesian, which causes them to be “easily influenced by separatist ideas”.
It also blamed “irrational demands for customary rights to land and limited transportation infrastructure hampered economic growth” for ongoing calls for independence.
Jayapura- Janji Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengumumkan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Internasional Lawyers for West Papua (ILWP) yang dilaksanakan di Universitas Oxford London Inggris 2 Agustu lalu, benar-benar dipenuhi.. Pengumuman itu disampaikan dalam bentuk orasi terbuka di lapangan Makam Dorteis Eluay, Sabtu (20/8). Pengumuman resmi KTT ILWP, dimulai pukul 09.00,dengan agenda, kata pembukaan,ibadah singkat,orasi politik oleh Komite KNPB Wilayah se-tanah Papua, pembacaan hasil KTT ILWP + live phone Inggris Beny Wenda, serta orasi politik Bangsa Papua oleh Ketua umum KNPB Buktar Tabuni, serta doa penutup. Acara ini diikuti seribuan massa yang datang dari kota Jayapura dan Sentani,serta perwakilan dari semua komite wilayah yang ada di Kabupaten se-Tanah Papua.
-
ETAN is interested in learning the impact of President Trump/ Secretary of
State Rubio's freeze on U.S. foreign aid:
How is it affecting projects in Ti...
Kanaky support Independence of West Papua
-
Support within Melanesian community is very significant in the
international process on the issue of West Papua.
This was one objective that the West Pa...
PDM-TL's Project Blog is Changing Locations!
-
As of today, Peace Dividend Marketplace Timor-Leste's project blog,
www.buylocalbuildtimorleste.blogspot.com, is moving to a new web address -
BuildingMark...