Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat. Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini: Please donate to the Free West Papua Campaign U.K. Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya. Peace ( by Voice of Baptist Papua)
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua
Written By Voice Of Baptist Papua on April 18, 2012 | 7:04 PM
Yulius Miagoni, SH
Binpa (Selasa, 17/04/2012 ) –
JAYAPURA, Sekjen PBB Bang Ki Moon saat ini dituntut orang Papua
untuk segera mempertanggungjawabkan pernyataannya yang
mengatakan agar masalah Papua dibawa untuk dibahas di Dewan Hak Asasi
Manusia (HAM) dan Komisi Dekolonisasi Majelis Umum PBB. Kabarnya
pernyataan Ki Moon tersebut disampaikan di hadapan publik di Auckland,
New Zealand, 7 September 2011 lalu.
Permintaan ini disampaikan Sekretaris
Komisi A DPR Papua Yulius Miagoni, SH ketika diwawancarai di ruang
kerjanya, Selasa (17/4). Menurut pria berambut gimbal ini, pernyataan
Sekjen PBB Bang Ki Moon kini, terus dikejar orang Papua karena yang
menyampaikan persoalan tersebut adalah seseorang yang mempunyai
kewenangan besar dalam menentukan keabsahan sebuah negara.
Written By Voice Of Baptist Papua on March 21, 2012 | 6:50 PM
Numbay West Papua_20 Maret 2012, KNPB sebagai media nasional rakyat
bangsa Papua, kembali mediasi sepuluh ribuan demontran di Numbay, dalam
Rangga Penolakan kedatangan sekretaris PBB Ban Ki Moon di Indonesia, dan
Menuntut Referendum ulang bagi bangsa Papua Barat.
JAYAPURA - Ribuan massa dari Komite Nasional Papua
Barat (KNPB) melakukan demo menolak kedatangan Sekretaris Jenderal
(Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Jakarta dan menuntut kepada
PBB segera bertanggungjawab atas integrasi Bangsa Papua Barat ke dalam
pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya demo
KNPB yang biasanya damai, maka kemarin mulai berubah menjurus jadi
anakis. Seperti yang dilakukan di Expo sekitar Pukul 13.15 massa KNPB
yang melakukan demo di daerah Expo-Waena melakukan pengrusakan satu
truck Polisi Dalmas Polresta Jayapura Kota, dimana mengakibatkan kaca
mobil truck polisi Dalmas mengalami keretakan yang sangat parah. Sekitar
Pukul 15.00 massa KNPB yang dari arah Expo-Waena tiba didepan Kantor
Pos Abepura atau Toko Citra melakukan aksi pelemparan batu ke arah
kantor atas toko tersebut, yang dimana mengenai para pegawai Kantor Pos
Abepura, warga yang tinggal di belakang Toko Citra. Bahkan wartawan
media cetak dan elektronik yang mana saat melakukan peliputan aksi demo
tersebut tak luput dari kejaran massa. Akibat dilempari massa kaca
jendela dan kaca pintu utama dari Kantor Pos Abepura mengalami retak. Massa
KNPB yang menggelar demo dengan berjalan kaki dari Waena menuju kantor
Majelis Rakyat Papua (MRP) tepat pukul 15.11 WIT kemarin sore, Selasa
(20/03/2012). Massa yang dipimpin langsung Ketum KNPB Pusat, Buktar
Tabuni melakukan orasinya menyatakan pernyataan politiknya di depan
halaman kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura, dikarenakan
tujuan demo KNPB sebenarnya adalah mendemo kantor MRP, namun massa KNPB
memadati sepanjang ruas badan jalan didepan kantor Polsekta Abepura atau
Kantor Pos Abepura.
Pendemo langsung tumpah ruah di depan Kantor Kantor MRP atau Kantor Pos
Abepura. Massa KNPB dalam orasinya yang disampaikan Buktar Tabuni itu,
intinya menolak kedatangan Sekjen PBB yakni Ban Kie Moon ke Indonesia
sebelum hak untuk menentukan nasib sendiri (Self Determination) atau
menuju Referendum ulang bagi Bangsa Papua Barat. Mereka menyatakan,
PBB segera bertanggungjawab atas pencaplokan wilayah Bangsa Papua Barat
ke dalam pangkuan NKRI melalui PEPERA 1961 dan PBB segera hentikan
kerjasama bilateral dengan Pemerintah Indonesia serta stop (baca,
menghentikan) stigmanisasi Bangsa Papua Barat sebagai separatis, makar
maupun gerakan pengacau keamanan (GPK) dari Pemerintah Indonesia. “Kami
rakyat Bangsa Papua Barat menuntut Referendum, perjuangan kami Bangsa
Papua Barat adalah perjuangan untuk membebaskan diri dari segala bentuk
penindasan dan eksploitasi diatas Bumi Cenderawasih ini, Pemerintah
Indonesia segera mengangkat kaki dari wilayah Negara Papua Barat dalam
waktu dekat ini dan tanpa syarat,” teriak massa pendemo dengan perkataan
Papua Merdeka dan sambil mengangkat tangan sebelah kiri yang merupakan
bentuk perlawanan massa KNPB. Massa KNPB yang datang berdemo didepan
kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura kemarin siang hingga
sore hari, terdiri atas berbagai kelompok massa KNPB termasuk unsur
pergerakan KNPB yakni PRD Numbay dan PRD Tabi. Dalam berdemo di
depan Kantor Polsekta Abepura atau Kantor Pos Abepura massa KNPB
meluapkan segala emosinya hingga mencela Negara Amerika Serikat sebagai
Bangsat dan Negara Indonesia dihapuskan diatas Tanah Papua Barat ini.
Dalam orasi politik yang disampaikan oleh Mama Tiom dikatakan, bahwa
kami ingin merdeka dan terbebas diri dari penderitaan bangsa rakyat
Papua Barat yang telah dijajah oleh Negara Indonesia. “Kami ingin
meminta kemerdekaan secara penuh dan mengembalikkan hak politik serta
ingin berdiri sendiri,” katanya. Pernyataan sikap yang sama
disampaikan juga oleh Sebby Sambom. Isi pernyataannya sama yakni
menuntut kemerdekaan Bangsa Papua Barat. Bahwa kita harus berfikir untuk
berjuang meraih kemerdekaan tanpa hentinya sampai titik darag
penghabisan hingga datang waktunya kita menentukan nasibnya sendiri
(Self Determination). Sedangkan orasi dari salah satu tokoh mantan
Tapol/Napol Papua Barat yakni Saul Bomay dikatakannya, bahwa Tapol/Napol
merupakan OPM-nya politik, sedangkan TPN merupakan militernya OPM. Kami
berjuang untuk kemerdekaan bangsa Papua, maka itu kita harus bersatu
hingga kita pasti bisa merdeka. Massa terus melakukan orasi
Politiknya didepan ruas badan jalan Kantor Polsekta Abepura atau kantor
Pos Abepura, hingga jalan raya yang menghubungkan antara Kotaraja,
Abepura dan Waena ini ditutup untuk umum demi keamanan dan mengalami
kemacetan yang sangat panjang, masyarakat pengguna jalan yang akan
melintas jalan tersebut, sehingga demo berakhir tepat pukul 18.00 Waktu
Papua. KNPB dalam pernyataan sikapnya, menyampaikan beberapa hal
terkait keinginan dari rakyat Bangsa Papua Barat yang dijadikan sebagai
suatu tuntutan, dan tuntutan tersebut adalah, dimana Pemerintah
Indonesia diminta segera melakukan Referendum di atas Tanah Papua,
dengan tegas menolak kedatangan Sekjend PBB, Ban Kie Moon ke Indonesia,
PBB harus bertanggungjawab atas pencaplokan wilayah dari Bangsa Papua
Barat kedalam Pangkuan NKRI dan mendesak masyarakat dunia Internasional
dan IPWP atau ILWP untuk menekan PBB, sehingga Bangsa Papua Barat dapat
menentukan nasibnya sendiri melalui mekanisme Referendum Bangsa Papua
Barat. Pantauan Bintang Papua demo ini dimulai dari berkumpulnya
beberapa orang di depan Terminal Expo, sekitar pukul 10.15 WIT, sambil
membentangkan spanduk yaitu Referendum bagi Bangsa Papua Barat dan
sejumlah spanduk lainnya yang bertuliskan Bahasa Inggris. Selain itu,
sekitar empat orang perwakilan dari KNPB dibawah pimpinan Mako Tabuni
(Ketua I KNPB) setibanya di Pangkalan Taxi Perumnas III, Waena langsung
melakukan penggalangan massa baik mengajak dari kalangan masyarakat
maupun mahasiswa yang berada disekitar lokasi tersebut, guna ikut
melakukan aksi demonstrasi di halaman Kantor Majelis Rakyat Papua (MRP)
untuk menolak kedatangan Sekjend PBB, Ban Kie Moon ke Indonesia serta
meminta penentuan nasib sendiri maupun menuntut Referendum atas Bangsa
Papua Barat. Dan usai aksi demo didepan kantor MRP, Ketua I KNPB
Pusat, Buktar Tabuni melakukan jumpa pers dalam intinya menolak
kehadiran Ban Kie Moon dan meminta maaf atas perlakuan dari anggota KNPB
terhadap wartawan media cetak dan elektronik baik itu media lokal
maupun media nasional. Massa yang berjumlah 500-an orang ini langsung
melakukan longmarch atau berjalan kaki dari Expo, Waena menuju Abepura
yakni tepatnya di Kantor MRP, dimana aksi demo tersebut dibawah pimpinan
Buktar Tabuni dan Mako Tabuni bergabung dengan massa pendemo lainnya.
(CR-36/ven/don/l03)
Tergabung dalam delapan belas organisasi non pemerintah hak asasi manusia dan gerakan keadilan sosial yang berbasis di Australia dan Selandia Baru hari ini, meminta Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon untuk segera menunjuk seorang perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa khusus untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Papua Barat dan meninjau status politik papua barat.
Written By Voice Of Baptist Papua on September 7, 2011 | 6:52 PM
By Lloyd Burr
Mana Party Hone Harawira is trying to initiate mediation between the Indonesian
Government and the indigenous people of West Papua by the UN (NZPA pic)
Mana Party leader Hone Harawira took the opportunity to talk about the indigenous affairs of Indonesia with foreign delegates at the Pacific Islands Forum in Auckland yesterday.
Mr Harawira called for the United Nations to support peace talks between the indigenous people of the Indonesian province of West Papua and the Indonesian Government.
One of the delegates he spoke to at the Forum was United Nations Secretary General Ban Ki-moon and Harawira says he “took the opportunity with both hands”.
Mr Harawira released this press statement this morning:
It’s not often that you get to meet somebody as important as Ban Ki-moon, Secretary General of the United Nations so Hone Harawira, MANA leader and MP for Tai Tokerau, took the opportunity with both hands.
Extract from Ban ki moon press conference, Pacific Islands Forum, 7 September 2011
Question: [unclear] With regards to human rights - for more than forty two years, there’s a struggle in West Papua as people seeking their government in the province of West Papua
What is the United Nations stand on that?
BKM: This issue should also be discussed at the Decolonisation Committee of the United Nations General Assembly
And when it comes again, whether you are an independent state or a non-self-governing territory or whatever, the human rights is inalienable and a fundamental principle of the United Nations. We will do all to ensure that people in West Papua, their human rights will be respected.
Does he support United Nation's Secretary-General Ban Ki-moon's statement regarding human rights in West Papua that "we will do all to ensure that people in West Papua, their human rights will be respected"?
“Human rights are an inviolable and fundamental principle of the United Nations charter and the United Nations is always very strong in committing to ensure that the human rights of everybody in member countries and elsewhere are fully protected.”
So said UN Secretary-General Ban Ki-moon during a joint press conference with the NZ Prime Minister John Key in Auckland today.
Ban’s statement came after he was questioned by journalists who asked what measures were being taken by the UN to address the reports of human rights abuses in Fiji and West Papua.