JAKARTA - Persoalan dugaan adanya pelanggaran HAM di
Papua masih menjadi perhatian pihak asing baik dari kalangan aktivis Civil society maupun dari kalangan pemerintahan itu sendiri.
Bahkan,
masalah Papua sudah dibahas dalam pertemuan Melanesian Spearhead Group
(MSG), dimana delegasi MSG akan melakukan kunjungannya ke Papua dan
Papua Barat dalam waktu dekat ini.
"Persoalan di Papua dan Papua
Barat akan terus menjadi perhatian asing, sehingga penanganan masalah
Papua tidak boleh gradual, namun harus komprehensif," jelas pengamat
masalah politik, Joris Kabo dalam keterangan tertulisnya yang dikutip kepada
Okezone, Senin (19/8/2013).
Dia
mencontohkan pada 12 Agustus 2013 yang lalu Perdana Menteri Kepulauan
Solomon, Gordon Darcy Lilo melakukan kunjungan ke Indonesia, yang
diberitakan media asing seperti ABC Radio Australia bahwa kunjungan
tersebut mengindikasikan akan mengemukakan isu Hak Asasi Manusia (HAM)
di Papua Barat dalam pembicaraan dengan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY).
Menurut Joris Kabo, kunjungan PM Gordon Darci
Lilo yang pertama tentu merupakan landasan dasar bagi kerjasama
bilateral yang penting selanjutnya. Indonesia mengakui sejarah negara
Solomon sebagai Negara di Pasifik yang besar peranannya dalam Perang
Pasifik bagi pasukan sekutu pimpinan Jenderal McArthur.
“Sebagai
sesama Negara Pasifik, maka hubungan Indonesia-Salomon tentu mempunyai
arti yang penting seperti hubungan yang sudah ada antara Indonesia
dengan Negara-negara Pasifik yang lain seperti RI-PNG, RI- Haiti,
RI-Vanuatu, dll,” tambahnya.
Mengenai masalah Papua, menurut
Joris, telah banyak dicapai kemajuan-kemajuan di berbagai bidang
pembangunan prasarana dan sarana diberbagai bidang antara lain
transportasi dan komunikasi, yang sangat vital bagi pengembangan
pembangunan sosial dan ekonomi selanjutnya di Papua serbagai Propinsi
yang memiliki kondisi geografi yang tidak mudah dijalani.
“Secara
garis besar, pelaksanaan otonomi khusus bagi pembangunan Papua yang
terdiri dari tiga buah Propinsi, yaitu Propinsi Papua Barat, Propinsi
Papua Tengah dan Propisi Papua juga cukup berhasil,” katanya.
Menurutnya,
berita-berita tentang adanya berbagai isu yang kadangkala terdengar
dramatis tentang Papua dalam media massa seperti di Australia adalah
wajar karena secara geografis berdekatan dengan Papua, masyarakatnya
mempunyai perhatian yang khusus terhadap setiap perkembangan di Papua
seperti banyak diberitakan oleh media massa Australia yang bebas dan
terbuka.
Untuk diketahui berdasarkan pemberitaan ABC Radio
Australia, Kepulauan Solomon adalah salah satu negara anggota kelompok
Melanesian Spearhead Group (MSG), yang menerima proposal West Papua
National Coalition for Liberation (WPNCL).
KTT Menteri Luar
Negeri MSG di Noumea, 21 Juli 2013, menyepakati aplikasi WPNCL mengenai
penentuan nasib sendiri rakyat Papua Barat dan kekhawatiran adanya
pelanggaran (HAM) di wilayah itu. Sebelum berangkat, PM Lilo mengatakan
ia menyadari adanya pelanggaran HAM di Papua, dan ingin memastikan ada
'perkembangan' di sana.
“Terkait adanya rumors tentang delegasi
MSG yang akan berkunjung ke Papua pada tahun ini, saya rasa Pemerintah
Indonesia tidak akan keberatan dengan rencana tersebut, apalagi dalam
pernyataan persnya PM Kepulauan Solomon, Gordon Darcy Lilo yang pernah
berkunjung ke Indonesia menyatakan puas dan mendukung langkah pemerintah
dalam menangani dan membangun Papua.
Tidak ada yang perlu mendramatisir
atau mempolitisasi rencana kunjungan MSG ke Papua sebagai langkah fact
finding pelanggaran HAM, seperti yang diharapkan kelompok tertentu di
Papua,” jelasnya