SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Apa Solusi Atas Konflik Papua?

Scoop Voice Baptist

About Me

My Photo
Papua, Papua barat/Indonesia, Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua

Voice of Baptist Papua

Asian Human Rights Commission

Welcome to Suara Baptis Papua Online

SB - PAPUA-News

© Copyright 2011 suara baptis papua. Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Presiden. Show all posts
Showing posts with label Presiden. Show all posts

Contoh Buruk, Presiden Jadi Ketua Partai

Written By Voice Of Baptist Papua on April 2, 2013 | 7:47 PM

"Pertama kali dalam sejarah partai politik di era reformasi, seluruh jabatan dalam struktur partai politik diketuai satu orang."

SBY (photo VHRm)
VHRmedia, Jakarta - Terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ketua umum sekaligus ketua majelis tinggi dan ketua komisi pengawas Partai Demokrat menegaskan kekalahan negara terhadap kepentingan golongan dan kelompok.

Padahal, menurut Direktur Eksekutif Lingkar Madani  Indonesia Ray Rangkuti, justru SBY-lah yang selalu mendengungkan jargon kepentingan negara diatas kepentingan yang lain.

“Semboyan itu hanya hebat diucapkan tapi pahit dalam pelaksanaan, bukan saja karena negara seringkali kalah dalam menghadapi koruptor, sikap intoleran bahkan premanisme bahkan  negara kalah oleh tindakan dan pilihan presiden sendiri,”kata Ray. 

Menurut Ray, pertama kali dalam sejarah partai politik di era reformasi, seluruh jabatan dalam struktur partai politik diketuai oleh seorang individu. SBY adalah Ketua Majlis Tinggi  Demokrat,  sekaligus Ket ua Dewan Pembina, Komisi Pengawas Demokrat. "Prinsip agar partai dikelola secara partisipastif dan bagian dari pendidikan politik masyarakat hilang dengan praktek ini,"katanya.

Struktur itu, kata Ray, mengaburkan pertanggugjawaban dan fungsi-fungsi tiap struktur partai secara internal. Siapa bertanggungjawab atas apa, dan siapa melakukan pengawasan atas apa serta siapa memerintah atas apa menjadi kabur karena kekuasan terpusat hanya di tangan satu orang.  Semangat itu melecehkan prinsip demokrasi yang pada hakekatnya menginginkan adanya pembagian kekuasaan yang saling mengkoreksi dan seimbang.

"Uniknya, model seperti ini malah melanggar AD/ART Demokrat sendiri. Seperti disebutkan dalam pasal 13 ayat (3) bahwa wakil ketua Majelis Tinggi dijabat oleh Ketua Partai. Dengan begitu, SBY bukan hanya sebagai ketua mejelis tinggi, dia juga menjadi wakil ketua majelis tinggi. Struktur partai model apakah ini? Ketua dan Wakil Ketua adalah dirinya sendiri," ujarnya.

KLB Partai Demokrat juga menunjukan partisipasi dan kaderisasi mandek, salah satu prinsip pembentukan partai politik adalah dalam rangka mengelola partisipasi masyarakat dalam rangka menuju cita-cita bersama dan sekaligus menjadi alat bagi rekrutmen kepemimpinan. Dua prinsip ini dikalahkan secara tragis di dalam KLB Demokrat. Kekuasaan yang menumpuk di tangan SBY dan membunuh lahirnya partisipasi sekalligus kaderisasi yang baik di internal partai. Suasana ini jelas memacetkan adanya sirkulasi kekuasaan dari satu tangan ke banyak tangan.

"Adanya pergantian yang reguler untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak hanya bertumpu pada satu tangan bahkan tidak boleh bertumpu pada satu klan, keluarga atau darah. Itulah makna penting pemilihan, pembatasan dan struktur-struktur dalam partai politik," katanya.

Anak muda diam

Kata Ray,  agar partai dikelola secara bersama oleh banyak orang dan kepala dan dengan begitu partisipasi dan kaderisasi tidak mandeg, tapi melebar mengait dengan banyak orang dan kepala. Karena partai seharusnya menjadi milik semua dan menjadi milik bangsa, bukan orang perorang atau keluarga.

Negara juga jelas-jelas makin kalah karena pada akhirnya presiden dan banyak anggota kabinet adalah mereka yang mewakili kepentingan partai-partai. Eksistensi partai seolah menjadi lebih penting dari pada eksistensi negara. Jargon-jargon yang dipakai untuk melegalisasi SBY sebagai ketua umum memperlihatkan bahwa penyelamatan partai jauh lebih utama dari pada penyelamatan negara. 

"Bahkan bentrokan antar aparat negara makin merajalela. Dalam hampir dua bulan perhatian SBY terpecah antara mengurus partai dengan negara, kenyataannya masalah negara lebih banyak terabaikan dari pada dikelola secara efektif dan segera," katanya.

Lebih dari itu kata dia, prinsip agar negara dikelola secara professional dan memulai tradisi agar setiap penyelenggara negara menganut prinsip loyalitas pada partai berakhir ketika loyalitas pada negara dimulai hancur berkeping-keping. Pernyataan SBY yang menyebut membiarkan dirinya dikritik dan diserang daripada Partai Demokrat tambah susah dan hadapi masalah menjadi pengukuhan bahwa kepentingan mengurus Demokrat jauh lebih utama dari pada mengurus bangsa dan negara. "Sebab bukankah kritik masyarakat kepada dirinya terkait dalam kasus ini berkenan dengan tuntutan agar SBBY lebih fokus mengurus negara dari pada mengurus partai sesuatu yang ideal," kata dia.

SBY lebih memilih mengabaikan kritik subtantif ini dan memilih mengurus demokrat sekalipun dengan struktur yang compang camping.  "Negara juga kalah karena anak-anak muda kritis, yang lahir dan tumbuh dalam budaya demokrasi, yang bahkan ikut berjuang menjatuhkan orde baru agar salah satunya praktek  nepotisme politik dihapuskan, sama sekali tak bersuara melihat kenyataan pilihan yang tidak demokratis dan mengarah ke nepotisme politik ini," tuturnya.

Negara kalah karena anak-anak muda kritisnya tiba-tiba tumpul, lumpuh dan ikut suasana perlakuan yang melecehkan adab dan rasionalitas demokrasi. Bila anak-anak mudanya tidak berani keluar bersuara dan menyatakan sikap menolak praktek pelecehan etika, rasionalitas dan prinsip pengelolaan negara dan partai secara demokratis atau malah mungkin mendukungnya demi kebaikan partai, saat itu sudah saatnya dinyatakan negara telah kalah. 

"Masa depan negara ada di tangan anak-anak muda ini. Bila mereka adaptatif pada praktek keculasan atas demokrasi, pada ujung-ujungnya mereka tengah membiarkan dirinya terbiasa dengan tindakan dan suasana tidak demokratis berlak,"katanya.

Negara kata Ray,  akan terus menerus terkalahkan jika generasi yang akan mengelola bangsa dan negara ini adalah sekelompok orang yang terbiasa berdamai dengan tindakan tidak demokratis dalam partainya.  Dan kekalahan kelima, negara kalah karena kata-kata ideal dalam mengeloal bangsa dan negara justru dibajak untuk melegalisasi praktek keculasan dalam berpolitik.

"Prinsip-prinsip ideal dalam mengelola bangsa ini kata dia,  takluk dan terkalahkan dalam praktek. Bahkan dipergunakan untuk melegalisasi tindakan-tindakan yang sebalinya.  Ironis," kata Ray.(E2)

Pastor Jhon Jonga: Presiden Tak Berani Selesaikan Masalah Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on October 10, 2012 | 5:46 PM

"Kami kecewa. Rencana kedatangan SBY merupakan angin segar bagi Papua. Presiden SBY seharusnya memberi kesejukan bagi masyarakat, tapi ternyata dia tidak berani,” ujar Pastor Jhon Jonga.

Pastor Jhon Yonga (Photo dok)
VHRmedia, Jayapura - Pastor Yohanes Jonga penerima Yap Thiam Hien Award 2009 menilai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono takut menuntaskan kasus pelanggaran HAM di Papua.

Pastor John kecewa Presiden tidak jadi hadir dalam pembukaan Raimuna Nasional X Pramuka di Bumi Perkemahan (Buper) Phokela, Waena, Kota Jayapura, 8-15 Oktober 2012. “Susilo Bambang Yudhoyono takut dengan bayangannya sendiri. SBY tidak melihat masalah Papua untuk diselesaikan,” kata John Jonga, Rabu (10/10).

Padahal kata Jhon Jonga, kesempatan itu dapat digunakan Presiden untuk berbicara tentang kondisi Papua saat ini. “Kami kecewa. Rencana kedatangan SBY merupakan angin segar bagi Papua. Presiden SBY seharusnya memberi kesejukan bagi masyarakat, tapi ternyata dia tidak berani,” ujar Pastor Jhon Jonga.

Raimuna Nasional X di Bumi Perkemahan Jayapura dibuka oleh Wakil Presiden Boediono. Raimuna Nasional diikuti sekitar 3 ribu anggota Pramuka dari seluruh Indonesia.

Boediono tiba di Bandara Sentani pukul 09.00 WIT didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dan Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.

Sebelum meninggalkan lokasi, Boediono sempat melakukan penanaman pohon di Bumi Perkemahan Cendrawasih Jayapura. Ratusan aparat keamanan menjaga ketat lokasi acara. (E1)
Foto: VHRmedia/Andhika Puspita

Patris, SBY Harus Selesaikan Konflik Papua, Tidak Penting Menghadiri Kegiatan Serimonial Raimuna di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on October 3, 2012 | 7:27 PM

Anggota Militan KNPB
Jayapura Voice Baptist,-- Kedatangan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono harus melihat situasi dan kondisi rakkyat papua secara rill, Jangan mementingkan kegiatan serimonial seperti Raimuna yang di agendakan 8/09 di jayapura papua. "kata Patris kepada Voice Baptist Via Telp Seluler 03/09".

Sebagai Aktivis "Kami Sampaikan Kepada SBY, Harusnya menyelesaikan konflik papua secara konprensif sesuai dengan janji SBY sendiri. Kami tidak akan berdiam diri, kami  akan melakukan gerakan perlawanan sekalipun janji aparat Polda papua akan mengamankan SBY lapisan betis, kata Patris"

Selama ini Pemerintah jakarta terkesan menutup mata dan membiarkan konflik papua terus berlanjut, tidak ada niat baik untuk mencari solusi yang cocok untuk menyelesaiakan status Papua di dalam NKRI. Jangan anda berfikir bahwa papua adalah bagian dari Indonesia."kata Patris.

Rakyat papua sampai saat ini masih belum merasa bagian dari Indonesia, dari tahun 1960-an sampai saat ini masih berjuang mencari jati diri sebagai suatu negara yang berdaulat seperti bangsa lain di dunia". "Kata patri denga nada tegas".

Kami sudah perintahkan agar untuk melakukan Perlawanan dan mencegat SBY  untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran HAM di papua secara tuntas. Agar SBY membuka mata atas kasus papua. Semua penggorbanan dan pembantaian rakyat papua melalui TNI/Polri dari tahun 1960-an sampai saat ini, SBY harus bertanggung jawab. 

Para semua pihak menyuarakan akan atas kasus papua namun SBY dan kroninya terlihat diam dan menutup mata. Saatnya SBY harus melihat dan membahas kasus papua secara keseluruhan.

Kami sampaikan juga kasus penemuan BOM di wamena adalah kenario oleh aparat, kami sudah melakukan pegecekan dan ternyata aparat keamana yang ada dibalik penemuan bom di wamena, skenario ini demi membenarkan diri atas keberadaan Densus 88 di papua' tegas Patris".

Kebohongan demi keutuhan wilayah masih di pelihara, kami tidak pernah melakukan kekerasan, misi kami berjuang tanpa kekerasan, jika melalui kekerasan maka jutru merugikan perjuangan dan misi Perjuangan Mulia Rakyat Papua sendiri, sehingga Aparat polda papua jangan kriminalisasikan KNPB sebagai Teroris kami adalah Media rakyat papua yang berjuang secara damai dan bermartabat. (wk*)


Comprehensive dialogue urgent for Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on September 23, 2012 | 8:26 PM

 Margareth S. Aritonang, The Jakarta Post

Papuan Aktivists (photo dok)
Jakarta, Voice Baptist,-- Activists and rights campaigners have called on President Susilo Bambang Yudhoyono to use his visit to Papua next month to initiate a dialogue with all members of the Papuan community to find a lasting solution to tension in the country’s easternmost province.

An activist with the Papuan Peace Network, Theo Hesegem, said the only way to end the violence in Papua was by holding a comprehensive dialogue with all stakeholders ranging from local businesspeople, local administrations, indigenous communities and members of rebel groups.

Theo added that it was high time for the government to embrace members of the Free Papua Movement (OPM) in a dialogue for peace. 

“It is corruption that is destroying Papua, not the OPM, which has been condemned as a separatist organization. The central government has intentionally nurtured corrupt practices throughout the country, including in Papua, by not doing anything about it,” Theo said.

He said the OPM and other noted figures, including Theys Hiyo Eluay and Mako Tabuni, had struggled against corruption, which had caused injustice to the people of Papua.

Indonesian Institute of Sciences (LIPI) researcher Muridan Widjojo said the OPM had been used as a shield for the government’s incompetence in administering the province.

“The OPM has conveniently been used as a scapegoat for the government’s reluctance to uphold justice [in Papua]. This has only nurtured respect for the movement among Papuans, who view the OPM as a kind of messiah who will one day deliver them from injustice,” Muridan said.

Muridan also called on the government to work harder to end the cycle of violence in Papua or risk dealing with the growing popularity of the OPM.

“Papuans name their children after local rights heroes, such as Mako Tabuni or Theys Hiyo Eluay. It’s the way Papuans deal with all the discrimination and injustice they have suffered. Both of them died but their spirits live on,” Muridan said.

Theys was killed by members of the Army’s Special Forces (Kopassus) on Nov. 10, 2002. Mako, meanwhile, was killed in an ambush by police in June of this year.

Separately, Poengky Indarti of human rights watchdog Imparsial said that Yudhoyono, whose term is due to expire in 2014, was burdened with the task of overseeing the peace process in Papua.

“The President has publicly said that his government is open for dialogue to discuss development in Papua. I think this is the right time for him to do that because soon he will be preoccupied with the 2014 legislative and presidential elections involving his Democratic Party,” Poengky said over the weekend.

She said dialogue was now even more urgent, given the Indonesian government’s refusal to adopt recommendations to promote human rights in Papua, as suggested by the United Nations Human Rights Council (UNHRC) at its quadrennial Universal Periodic Review (UPR) in Geneva, Switzerland in May.

The UNHRC asked Indonesia to adopt several recommendations on Papua, including to end the impunity enjoyed by members of the security forces who commit human rights violations in the province; to release all Papuans who have been detained for publicly expressing their aspirations; and to ensure free access for foreign journalists to Papua and West Papua.

The government is due to raise special autonomy funding for Papua to Rp 4.3 trillion (US$450.5 million) next year from this year’s Rp 3.10 trillion, and to Rp 1.8 trillion for West Papua from this year’s Rp 1.33 trillion.

Pimpinan Lintas Agama Kutuk Aksi Penembakan

Written By Voice Of Baptist Papua on June 11, 2012 | 7:18 PM

Memohon Presiden, Kapolri dan Panglima TNI Mengatur Secara Cepat Penanganan Papua
Lintas Agama Papua
JAYAPURA— Maraknya aksi teror penembakan yang akhir – akhir ini terjadi di Papua, khususnya Kota Jayapura, baik terhadap warga asing, aparat keamanan, maupun terhadap masyarakat sipil, yang sejak 17 Mei hingga kini telah tercatat 9 orang yang menjadi korbannya, mendapat perhatian serius dari para Pimpinan Lintas Agama di Tanah Papua. Pada intinya mereka mengutuk keras aksi-aksi penembakan yang mengorbankan orang-orang yang tidak bersalah tersebut.

Dalam menyikapi aksi-aksi penembakan tersebut para pimpinan umat ini mengeluarkan pernyataan sikap dan seruan keprihatinan.  Mereka adalah Ketua PGGP, Pdt. Lipiyus Biniluk, FKUB Papua, George Rumi, Ketua Muhammdiyah Papua, H. R. Partino, Uskup Jayapura, DR. Leo Laba Ladjar, MUI Papua Dudung, AQN, PHDI I Nyoman Sudha, NU Papua Tony Wanggai, Yapelin Petrus, FKUB T. H. Pasaribu, PGGP Mathias Sarwa, PGPI Papua Pdt. M.P.A. Maury, S.Th. FKPPA Pdt. Herman Saud, FKPPA Eddy Pranata dan FKUB Ponco Winata saat melakukan jumpa pers, di Kantor Keuskupan Jayapura Dok II-Distrik Jayapura Utara, Senin (11/6) kemarin sore.  
Sedikitnya ada 10 poin pernyataan sikap mereka. Pertama, mengutuk keras aksi-aksi teror penembakan yang menimbulkan korban jiwa dari orang-orang tidak berdosa, seluruh umat agar mendoakan Papua sebagai Tanah Damai menjadi kenyataan dalam kehidupan bersama demi pembangunan di segala bidang dan kehidupan bersama yang damai dan aman. Kedua, pihak-pihak yang melakukan kekerasan agar menghentikan tindakannya dan bertobat sebagaimana yang diajarkan oleh semua agama.
Ketiga, pihak keamanan dalam hal ini aparat kepolisian supaya menjamin keamanan dan perlindungan bagi seluruh umat, agar masyarakat menjadi aman dan damai. Keempat, para pelaku kekerasan terhadap kemanusiaan baik ancaman fisik, non fisik, penganiayaan dan sampai pada penghilangan nyawa harus diproses secara hukum demi penegakkan hukum dan keadilan di Tanah Papua.
Kelima, pemerintah dalam hal ini Legislatif maupun Eksekutif baik di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus proaktif mencegah kekerasan dan pembunuhan manusia.
Keenam, TNI/Polri harus melaksanakan tugas negara dengan sebaik-baiknya, untuk melayani dan menghidupi rakyat Indonesia di Tanah Papua. Aparat harus bersih dan melakukan tugas secara profesional demi penegakkan hukum, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan HAM bagi bangsa kita di mata dunia.
Ketujuh, Porli segera mengungkap pelaku penembakan dan apa motif dari aksinya tersebut, agar tidak menim bulkan kecurigaan di kalangan masyarakat. Kedelapan, segala bentuk intimidasi, penyiksaan, penangkapan dan pemenjaraan segera dihentikan.

Kesembilan, kami memohon kepada Presiden, Kapolri dan Panglima TNI untuk mengatur secara cepat penanganan Papua dengan pendekatan kemanusiaan, investigasi oleh Tim Kemanusiaan, Tim Hukum dan HAM demi penegakkan Hukum dan penertiban aparat TNI/Polri.

Dan kesepuluh, para pimpinan agama dalam setiap melakukan tugas pastoral keliling, trauma hiling dan pelayanan kesehatan bagi yang mereka berduka, sakit, terpenjara atau menjadi terdakwa maupun pelaku tidak boleh dihalang-halangi oleh siapapun.

Para pimpinan agama di Tanah Papua meminta kepada setiap umat untuk tidak gampang terprovokasi dan mengambil tindakan sendiri dengan  cara apapun yang dapat merugikan semua pihak. Tak terpancing dengan berita - berita yang menyesatkan dan mengadu domba umat.

“Tetap saling menjaga kerukunan antar umat beragama yang telah terjalin baik selama ini. Setiap umat harus meningkatkan kewaspadaan serta menjaga keamaman lingkungan tempat  tinggalnya masing-masing,”  kata Ketua PGGP Papua, Lipius Biniluk.

Menurutnya, meminta kepada pemerintah, TNI/Polri dan Penegak Hukum untuk  lebih meningkatkan keamanan dan menindak tegas serta mengikis habis setiap pelaku aksi teror  yang beraksi di Papua dan khususnya di Kota Jayapura.

“Semua umat yang hidup di atas tanah ini, wajib menjaga Papua sebagai  Tanah Papua Damai yang telah disepakati oleh semua pemimpin agama di Tanah Papua,” pungkasnya
Sumber: Bintang Papua

Forkorus: Presiden Indonesia yang Melakukan Makar

Written By Voice Of Baptist Papua on March 10, 2012 | 8:19 AM



Forkorus Yaboisembut
JUBI ( Jumat, 09/03/2012 ) ---"Presiden Republik Federal Papua Barat" Forkorus Yaboisembut menuduh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang melakukan makar. Soekarno melakukan makar dengan gagasan Trikora membubarkan Negara Papua Barat yang merdeka pada tanggal 1 Desember 1961 dengan anggapan sebagai negara boneka buatan Belanda.
Fokorus mengatakan itu dalam nota pembelaan pribadi yang dibacakannya sendiri di Pengadilan Negeri Jayapura, Jumat (9/3). “Dihina sebagai negara boneka, seakan bangsa Papua adalah boneka,” kata Ketua Dewan Adat yang kemudian didaulat sebagai Presiden Republik Federal Papua Barat dalam Kongres Rakyat Papua III, Rabu 19 Oktober 2011 lalu.

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger