SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Apa Solusi Atas Konflik Papua?

Scoop Voice Baptist

About Me

My Photo
Papua, Papua barat/Indonesia, Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua

Voice of Baptist Papua

Asian Human Rights Commission

Welcome to Suara Baptis Papua Online

SB - PAPUA-News

© Copyright 2011 suara baptis papua. Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Kopasus. Show all posts
Showing posts with label Kopasus. Show all posts

Papua dan 10 Tahun Setelah Ondofolo Dortheys Hiyo Eluay Dibunuh

Written By Voice Of Baptist Papua on January 1, 2012 | 2:38 PM

PAPUA-Kasus penculikan dan pembunuhan Alm. Dortheys Hiyo Eluay, Ondofolo Suku Sereh, Sentani, Port Numbay, Ketua LMA Irian Jaya/ Papua, dan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) telah berlalu tepat sepuluh tahun silam. Kini kita telah berada di detik, menit, jam, hari Sang Ondofolo dibunuh dengan cara dicekik. Cara mencekiknya sangat mengerikan, sangat tidak manusiawi.

Kalau kita baca buku terlengkap yang pernah ditulis tentang riwayat hidup, dan terutama riwayat sebelum dan sesudah pembunuhannya sampai hari ini, yaitu karya Sem Karoba, Hans Gebze, dkk, terbiatan Mei 2002 (selang waktu beberapa bulan setelah alm. dibunuh), maka ingatan kita tentang peristiwa-peristiwa yang tidak lama itu segar kembali, lalu dengan mudah kita kaitkan dengan perkembangan terakhir di Tanah Papua, Ketua Dewan Adat Papua yang kini berada di tahanan NKRI.

Kepada SBY Pimpinan Gereja Rekomendasikan Hak Menentukan Nasib Sendiri

Written By Voice Of Baptist Papua on December 22, 2011 | 4:16 PM

Pdt. Socrates Sofyan Yoman, MA (Foto: Ist)
PAPUAN, Jayapura --- Dengan adanya nasionalisme Papua yang sudah terbangun lama dan dipicu oleh berbagai kekerasan dan ketidakadilan sistematis, maka kami (pimpinan Geereja) telah menyampaikan kepada Presiden SBY bahwa keinginan untuk merdeka dan berdaulat telah mengkristal.

Gereja-Gereja Universal dalam solidaritasnya dengan Gereja-Gereja dan suara umat Tuhan di Tanah Papua telah merekomendasikan hak untuk menentukan nasib sendiri (The Right for Self Determination) rakyat Papua kepada Presiden SBY.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua, Pdt. Socrates Sofyan Yoman, MA, saat menggelar konfrensi pers siang tadi, Kamis (22/12) di Kantor Sinode KIGMI, Jayapura, Papua.

Menurut Yoman, wajah Indonesia di tanah Papua adalah pembantaian, pembunuhan, pemerkosaan, operasi militer, diskriminasi, dan berbagai stigma negative lainnya.

Indonesia military, inhumane to the people of Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on December 16, 2011 | 6:22 AM

Indonesia army
Bells and military movement in Papua, Indonesia, seem to impose its will through the barrel of a gun and violence. Armed with the instinct of death rates, apparently giving the impression inhumane."The intention was just one, treats people with dignity for the sake of ideology is not built by man," said Saul Wanimbo,

Chairman of the Office for Justice and Peace (SKP) Diocese of Timika, Papua, on Thursday (15/12). Situation, has created discomfort for the life of the Papuans, even peace between fellow citizens in Papua.
 According to Saul, the discomfort was deliberately created.

"The Papuans for action, there must be no military action," added Erry Nabire Degei in Papua. He put, obvious examples are still apparent in December 2011.

Rights group write to NZ minister for action on West Papua

 Indonesia Human Rights Committee says its written to the New Zealand foreign minister asking to take a more assertive stand against military violence in Papua.

Marie Leadbetter says reports are emerging from the Paniai District of the Indonesian military committing horrendous violence, firing from helicopters and torching villages.

Sharp tensions in Indonesian Papua following failure of “peace conference”

Written By Voice Of Baptist Papua on September 10, 2011 | 7:43 PM

By John Roberts
A report by the Brussels-based think tank, the International Crisis Group (ICG), has shed some light on the sharp ongoing tensions within the Indonesian provinces of Papua and West Papua. The Indonesian armed forces, which have a heavy presence to suppress political opposition and separatist Free Papua Movement (OPM) guerrillas, maintain a tight control over the media.
The August 22 report entitled “Indonesia: Hope and Hard Reality in Papua” focussed on the events surrounding a so-called peace conference held in Abepura near the Papuan capital of Jayapura on July 5-7. Organised by the Papua Peace Network, it was attended by some 800 delegates, with twice the number of Melanesian Papuans than expected by organisers. Jakarta was represented by a high-level delegation led by the co-ordinating minister for political and security affairs, Djoko Suyanto, who is one of President Susilo Bambang Yudhoyono’s top ministers.

Etan: September 2011 West Papua Report is out

Written By Voice Of Baptist Papua on September 6, 2011 | 6:44 PM


Summary: Twenty-six members of the U.S. House of Representatives appealed to Indonesian President Yudhoyono to release Papuan prisoner of conscience Filep Karma, noting concern that "your government meet its fundamental obligations to protect the rights of its people, as respect for human rights strengthens democracy." The bipartisan letter call Karma's case "an unfortunate echo of Indonesia's pre-democratic era." Amnesty International, meanwhile, appealed for the release of another Papuan, Melkianus Bleskadit, imprisoned for peaceful dissent. The Indonesian government granted a three month remission to the sentence of Papuan political prisoner Buchtar Tabuni on the occasion of Indonesian independence day, who was then released. The leak of secret Special Forces (Kopassus) documents reveal systematic Kopassus surveillance and intimidation targeting Papuans and even international personnel seeking to document human rights concerns in West Papua.
The documents label prominent international leaders including Nobel Peace Prize laureate Desmond Tutu and dozens of members of the U.S. Congress as supporters of "separatism" in West Papua. Human Rights Watch urged that in the wake of the documents revelations that the U.S. military cease all activities in cooperation with Indonesian military units in West Papua. Papuan leaders to convene a broad congress in October. Papuan leaders write U.S. Congress to call for peacekeepers. Church leaders and ordinary

Papua Banjir Mata-Mata Mengawasi gerakan Sipil

Written By Voice Of Baptist Papua on September 2, 2011 | 7:27 AM

ilustrasi
Papua dibanjiri mata-mata, demikian judul artikel harian sore NRC Handelsbald, Kamis (1/9). Penguasa di Jakarta takut gerakan separatisme di propinsi paling timur Indonesia itu akan semakin kuat.
Kopassus mengerahkan spion dalam jumlah besar mulai dari sopir taksi, jurnalis, petani, penjual minuman, dan pendeta.
NRC Handelsblad mendasarkan berita ini pada ratusan dokumen dinas mata-mata Kopassus tentang Papua yang bocor ke media. Dokumen tersebut memperlihatkan upaya keras tentara untuk memantau gerak-gerik para aktivis, politisi, pemimpin gereja dan warga asing di Papua.
Aktif
Papua adalah satu-satunya propinsi di Indonesia di mana gerakan separatisme masih aktif. Tentara dan polisi dalam jumlah besar diturunkan di pulau Cendrawasih itu.
"Hal paling sensitif untuk tentara adalah separatisme," tulis NRC Handelsblad.
Menurut Muridan Widjojo, peneliti LIPI yang diwawancarai NRC Handelsblad, selain Kopassus berbagai instansi pemerintah lain juga menurunkan mata-mata seperti pemerintah pusat, pemda provinsi, polisi dan satuan militer lainnya.

Indonesian Military Documents Reveal Unlawful Spying in Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on August 23, 2011 | 6:32 PM

Indonesian Military Documents Reveal Unlawful Spying in PapuaInternal military documents that recently came to light expose the Indonesian military’s surveillance of peaceful activists, politicians, and clergy in the easternmost province of Papua. Human Rights Watch urged the Indonesian government to order the military to cease the unlawful monitoring immediately, and to ensure that civilian authorities retain responsibility for basic law enforcement.

HRW Report
The military documents, approximately 500 pages, dated 2006 to 2009, include detailed reports of military surveillance of civilians and provide military perspectives on social and political issues in the area. Most are fromIndonesia’s Special Forces (Komando Pasukan Khusus, or Kopassus) and the Cenderawasih military command in Jayapura, the provincial capital. They range from internal briefings, presentations, teaching tools, and intelligence products such as daily and quarterly Kopassus reports, to a paper on the status of Papua under international law. A separate document that came to light recently describes a surveillance operation in 2011, indicating that such surveillance continues.
“The Kopassus documents show the deep military paranoia in Papua that conflates peaceful political expression with criminal activity,” said Elaine Pearson, deputy Asia director at Human Rights Watch. “It’s outrageous in a modern democratic country like Indonesia that activists, clergy, students, and politicians are the targets of military surveillance.”
More>>Indonesian Military Documents Reveal Unlawful Spying in Papua — EngageMedia

Usman Hamid Tantang Pemerintah Buktikan Pelaku Kekerasan di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on August 21, 2011 | 9:02 PM

Jakarta - Usman Hamid menilai aksi kontak senjata yang selama ini terjadi di Papua dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan OPM (Operasi Papua Merdeka). Lebih jauh lagi, dia menuding TNI yang berada di balik aksi kekerasan yang ada di bumi Cenderawasih tersebut.

"Kita menantang pemerintah untuk menjawab siapa yang terlibat kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua, apakah itu OPM atau OPM buatan?" tegas Usman di kantor Kongres Waligereja Indonesia (KWI) Jl Cikini II, Jakarta Pusata, Minggu (21/8).
Hadir dalam kesempatan itu perwakilan dari PGI Jeirry Sumampow dan Romo Benny Susetyo.
Mantan Koodinator KontraS itu menyebutkan dari data-data yang didapatkannya mengenai hasil dari Peradilan Militer, pelanggaran HAM terbukti dilakukan oleh anggota TNI.

Supporting Accountability, Not Separatism in Indonesia

What do US Senator Dianne Feinstein, Senator Patrick Leahy, and Archbishop Desmond Tutu have in common? Their names appear among 248 foreign politicians, government officials, academics and journalists the Indonesian military views as "supporters of Papuan separatists."
The list appears among 500 pages of Indonesian military documents, which recently came to light, that provide an insider view of the military's surveillance operations in Papua. the country's easternmost province.
Most of the documents concern the activities of Indonesia's Special Forces, or Kopassus. The US should be paying close attention since a year ago it restored full military ties with Kopassus, which had been suspended for years because of the force's notorious human rights record.

Tokoh Gereja Kecam Bocornya Dokumen Kopassus

Written By Voice Of Baptist Papua on August 15, 2011 | 7:47 PM

S. Sofyan Yoman/by,google
JAYAPURA – Menyusul terkuaknya dokumen kopassus soal separatis Papua yang dibocorkan media Australia, mendapat perhatian dari sejumlah   tokoh gereja di Papua. Mereka mengaku  mengecam laporan Komando Pasukan Khusus yang dibocorkan oleh media Australia, Sabtu (13/8) kemarin. Penyesalan bukan hanya lantaran memuat nama tokoh gereja sebagai pendukung gerakan kemerdekaan di Papua, tapi juga tidak memberikan informasi yang tidak sesuai fakta.  Salah satu tokoh gereja yang terkenal vocal yang juiga ikut disebut-sebut dalam dokumen itu, Socratez Sofyan Yoman mengatakan, laporan tersebut hanya akan menghancurkan negara dan tidak pada tempatnya. “Mereka yang melaporkan itu kerja apa saja, itu pekerjaan rendah, itu terlalu hina buat saya,” katanya kemarin.
Ia mengatakan, laporan tersebut memberikan gambaran bahwa pekerjaan Kopassus hanya membuang-buang tenaga. “Mereka mau apa dari laporan itu?itu pekerjaan tidak masuk akal. Jangan ditulis dan hanya melaporkan, kami itu tidak salah,” katanya.

Abuses in West Papua put peace effort at risk

Written By Voice Of Baptist Papua on August 14, 2011 | 11:33 AM

West Papuans during a pro-independence rally last week.
West Papuans during a pro-independence rally last week. Photo: AFP

CALLS have intensified for the Indonesian military to drawdown its extensive operational and surveillance presence in West Papua to ease the oppression of locals and pave the way for a fruitful dialogue between Jakarta and the disaffected indigenous people of the region.
Agitation for a new peace accord with West Papua comes as further evidence emerged of the relative impunity of soldiers in the region, where there have been many documented human rights abuses. Last week, three soldiers who murdered and decapitated a priest, Rev Kindeman Gire, were given sentences of between six and 15 months for ''insubordination''.
Responding to revelations in The Age of the extensive spy network operated in West Papua by the elite Kopassus (Special Forces Command) unit that targets civilians, politicians, clergy and even foreign tourists, Human Rights Watch said the surveillance violated freedom of expression and assembly.More>>theage.com.au/Abuses in West Papua put peace effort at risk

Papuans remain under Indonesia's menacing grip, reports Tom Allard from Jakarta.

Written By Voice Of Baptist Papua on August 12, 2011 | 8:27 AM

A Papuan protester addresses a crowd.
A Papuan protester addresses a crowd.
It would seem, to most observers, to be a singularly unremarkable venture. A group of American tourists visiting a cultural centre in the Papuan town of Abepura, just outside the capital Jayapura. On the agenda was an opportunity to view some historical artefacts and watch a traditional dance.
But, as the group of some 180 visitors toured the facility and enjoyed the performance, they were being watched. In the shadows was an informant for Indonesia's elite special forces unit, Kopassus.

World View - West Papua - When Will The Brutality End?

Written By Voice Of Baptist Papua on February 1, 2011 | 8:34 AM

 The release of a video in late October 2010 by Human Rights Watch via the internet has once again highlighted the ongoing brutality by Indonesian Special Forces in West Papua and reveals there has been little change to the military since the occupation of East Timor. Prof Damien Kingsbury from Deakin University discusses the issue on ABC South East World View with Tim Holt.
The sheer brutality that was inflicted on the East Timorese
 over a quarter of a century by the Indonesian military and their special forces Kopassus has been covered over many years thru World view on ABC South east radio.

Kontras: Pelaku Tak Cukup Diadili di Peradilan Militer

Written By Voice Of Baptist Papua on January 1, 2011 | 11:12 PM


Pernyataan ini menanggapi kasus kekerasan terhadap warga Papua oleh TNI yang rekaman kasusnya tersebar di internet. TNI, seperti kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, menyatakan kasus kekerasan di Papua tidak masuk kategori pelanggaran HAM. sumber
Dia mengatakan, para pelaku tidak cukup hanya diproses di Pengadilan Militer. "Pengadilan Militer hanya menghukum tindakan indisipliner, tapi penyiksaannya belum dihukum," kata Haris ketika dihubungi, Ahad (2/1).

Dalam Kitab Hukum Pidana Undang Undang Militer, kata Haris, tidak mengatur delik penyiksaan. Pengadilan Militer juga hanya mengadili perilaku indisipliner saja. "Ini harus masuk Pengadilan HAM," katanya.

Haris menuturkan, dalam video itu terlihat jelas bahwa tindakan itu penyiksaan. Meski tentara beralasan bahwa itu untuk menginterogasi gerakan separatis di Papua, kata Haris, itu tetap tak dibenarkan.

Menurut Haris, kekerasan tidak boleh dilakukan ketika mereka tidak bersenjata. Dalam video itu, para korban tidak terlihat membawa senjata. "Mereka kan tidak mengancam jiwa," ujarnya sembari mengingatkan bahwa Indonesia sudah meratifikasi konvensi anti kekerasan.

Bagi Haris, Pengadilan HAM merupakan langkah terbaik dalam penyelesaian kasus ini. Dia berharap Komisi Nasional Hak Asasi Manusia segera menyelidiki kasus ini.

Hanya saja, kata Haris, Komnas HAM tidak banyak melakukan terobosan dalam menangani kasus seperti ini. "Komnas HAM mandul soal kekerasan Papua ini," ujarny

HRW desak RI selidiki kasus dugaan penyiksaan di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on November 21, 2010 | 8:32 PM

Oleh: Anugerah Perkasa

JAKARTA: Human Rights Watch (HRW) mendesak pemerintah melanjutkan penyelidikan kasus dugaan penyiksaan oleh aparat keamanan di Papua terhadap dua petani dari Tingginambut, Papua yakni Tunaliwor Kiwo dan Telengga Gire. Organisasi itu juga meminta video terbaru tentang kesaksian Kiwo harus digunakan dalam penelusuran tersebut.
SUMBER
Deputi Direktur Divisi Asia HRW Phil Robertson mengatakan dalam kesaksian Kiwo diceritakan secara detil penyiksaan yang dilakukan oleh aparat keamanan selama 3 hari yakni 30 Mei-2 Juni 2010. Padahal, pemerintah sebelumnya berjanji akan melakukan penyelidikan, namun justru mengklaim tak dapat mengidentifikasi para pelaku.

"Sekali lagi, pemerintah justru tak melakukan sesuatu, daripada memenuhi kewajibannya untuk secara prokatif mengidentifikasi dan menuntut para prajurit yang bertanggung jawab," ujar Phil dalam siaran persnya hari ini. "Kiwo sepantasnya mendapatkan perlindungan dari aksi pembalasan, bukan investigasi setengah hati."

Indonesia adalah pihak yang ikut dalam United Nations Convention Against Torture, yang memiliki kewajiban untuk menginvestigasi dan menuntut semua insiden penyiksaan. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan korban dan saksi terlindungi dari intimidasi karena memberikan bukti.

Video Kiwo dan Gire sebenarnya direkam pada Mei lalu, namun dimunculkan di situs Youtube pada Oktober. Tayangan berdurasi 10 menit itu memperlihatkan penyiksaan tentara yang menendang muka kedua petani tersebut, menyundutnya dengan rokok, membakar penis hingga mendekatkan pisau ke leher. Kiwo akhirnya berhasil lolos pada 2 Juni lalu, sedangkan Gire dibebaskan karena permohonan keluarga.

Kesaksian Kiwo direkam melalui video oleh situs Engage Media, sebuah media independen yang menggunakan video, internet dan teknologi informasi lainnya untuk melakukan perubahan sosial dan lingkungan.

Kesaksian Kiwo menyatakan dirinya beserta Gire awalnya dipanggil oleh sejumlah aparat TNI di Pos Kwanggek Nalime, Kampung Yogorini saat ingin bepergian dari Tingginambut ke Mulia, ibukota Puncak Jaya. Sebelum penyiksaan terjadi, keduanya juga sempat ditanya soal kartu identitas.

"Saya dan Telengga Gire diikat dengan tali dan diseret ke belakang pos dengan menarik ujung tali dibalik ke belakang saya dari arah kiri pos ke belakang, lalu langsung pertama-tama ditampeleng keras pada telinga kiri dan dan telinga kanan ditarik ... didorong ... dibanting ke tanah," kata dia seperti dikutip dalam situs Engage Media. "Habis itu kedua kaki kami diikat dengan kawat berduri. Lalu ditarik ujung tali yang sudah terikat pada tangan kami dan diseret-seret dari arah Sungai Nagarak."

HRW juga mencatat terdapat kesalahpahaman sejumlah reporter nasional dan internasional, serta pejabat yang menanggapi dugaan penyiksaan terhadap kasus Kiwo dan Gire. Pada 5 November lalu, pengadilan militer di Jayapura mengadili sejumlah pejabat militer terkait dengan dugaan penyiksaan, namun dalam hal ini bukanlah terkait dengan kasus Kiwo dan Gire.

Tiga prajurit TNI dari Satgas Pam Rahwan Yonif 753/Arga Vira Tama yang bermarkas di Nabire, Praka Sahminan Husain Lubis, Prada Joko Sulistiono, dan Prada Dwi Purwanto akhirnya dihukum 5 bulan penjara dan 7 bulan penjara untuk komandan mereka, Letda Cosmos N. Mereka terbukti melakukan penganiayaan warga Puncak Jaya yang direkam pada pertengahan Maret lalu oleh Prada Ishak. Video itu memuat tayangan yang berbeda dengan video Kiwo dan Gire. (msw)

Menyeimbangkan bertindak untuk Obama PADA sales keamanan Indonesia

Written By Voice Of Baptist Papua on November 9, 2010 | 7:44 PM

President Barack Obama, accompanied by first lady Michelle Obama, signs a book while Indonesian president Susilo Bambang Yudhoyono and Kristiani Herawati look on at Merdeka Palace in Jakarta November 9, 2010. REUTERS/Enny Nuraheni

JAKARTA | Thu November 9, 2010 11:45 EST

(Reuters) - Amerika Serikat dan Indonesia memiliki kepentingan keamanan BANYAK Bersama, TAPI Presiden AS Barack Obama menghadapi batu sandungan Very ketika membahas lebih Militer Dekat sales selama kunjungannya Minggu ini - hak asasi Manusia.SUMBER

Militer Indonesia, dan khususnya Yang Kopassus Pasukan Khusus, memiliki hak Catatan KESAWAN kepalang Kampanye Terakhir Melawan kaum separatis di Timor Timur, Papua Barat dan Aceh. Sebuah video Baru Yang menunjukkan penyiksaan terhadap Orang-Orang Papua telah Masalah membawa Suami Dilaporkan di Bawah SOROTAN sebagai kunjungan obama Indonesia.

Kedua Negara memiliki sales keamanan Yang Berjalan Sudah lama. 88 unit Detasemen's Indonesia anti-teroris, Yang Bali dibentuk lahir years Penghasilan kena pajak tahun 2002, didanai, dilatih dan dilengkapi Dibuat amerika Serikat dan Australia, dan telah mencetak keberhasilan mengesankan.

Ancaman Militan di Indonesia Sudah Sangat berkurang dekade Terakhir KESAWAN. Grup kepada Yang Setia al Qaeda telah tersebar dan pemimpin kunci BANYAK telah dibunuh Dibuat Dari Pasukan Detasemen 88. Obama perlu untuk memastikan bahwa Kerjasama erat Yang Terus memerangi militansi terbesarnya di Negara muslim di Dunia.

Jakarta Juga, Ingin menggalang keamanan, sebagian untuk bertindak sebagai Melawan Cina Benteng semakin Yang telah hawkish melenturkan muscle KESAWAN Wilayah sengketa di Laut Cina Selatan Artikel Baru beberapa Negara Asia Tenggara tetangga Indonesia.

"Saya rasa * Semua presiden di AS Harus mengambil Indonesia sebagai Teman Baik," ujar Analis keamanan Bahasa Indonesia Noor Huda Ismail, wakil presiden Sekurindo Global Consulting.

"Mereka regular tidak Punya pilihan selain berteman Artikel Baru Kita KARENA Kita akan Benteng mereka di Wilayah tersebut, untuk mengandung Cina."

tindakan penyeimbangan Obama adalah untuk membina dan memperdalam Kerjasama Tanpa keamanan muncul untuk memaafkan pelanggaran hak asasi Manusia Indonesia Dibuat Militer dan Polisi.

Bahasa Indonesia counterpart Susilo Bambang Yudhoyono-Nya Juga memiliki tindakan penyeimbangan untuk melakukan. Cina adalah Kekuatan Yang dominan di Asia, KESAWAN hal Ekonomi Serta Militer. KESAWAN kerja jangka pendek samanya Artikel Baru Washington, Yudhoyono Harus berusaha untuk menghindari Beijing berlawanan.

VIDEO PENYIKSAAN mempersulit Ties

PADA bulan Juli, Menteri Pertahanan Robert Gates KESAWAN kunjungannya mengumumkan bahwa Washington berakhir larangan sales Artikel Baru Kopassus. Dia mengatakan Langkah-Langkah diikuti Suami Dibuat Indonesia untuk dihukum menghilangkan pelanggar hak asasi Manusia Dari Jajaran Pasukan Khusus.

Tetapi Organisasi hak asasi Manusia bereaksi Artikel Baru kemarahan, mengatakan Kopassus Pelabuhan Masih petugas bersalah tetap Permanent kejahatan terhadap kemanusiaan. Dan bocornya video penyiksaan Yang menunjukkan Orang Papua, Tempat Aksi separatis tingkat rendah telah years direbus selama puluhan, Masalah telah Membuat bahkan lebih sensitif.

Suami video menunjukkan doa laki-laki Papua sedang diinterogasi dan disiksa. Mereka dipukuli dan ditendang. Satu diadakan untuk Orang memiliki tenggorokannya pena?, tongkat dan lain telah diadakan untuk membakar alat kelaminnya.

Data video - Artikel Baru Yang tampaknya telah difilmkan ponsel salah Satu interogator - Tanggal ITU PADA diambil 30 Mei years. Suami menunjukkan regular tidak jelas APA unit Pasukan keamanan Indonesia terlibat.

"AS tampaknya Sangat Berhati-hati PADA Kerjasama Militer Artikel Baru Indonesia, dan salah Satu Masalah Utama adalah Papua," kata Andi Widjajanto, Analis keamanan di Universitas Indonesia.

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger