SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Apa Solusi Atas Konflik Papua?

Scoop Voice Baptist

About Me

My Photo
Papua, Papua barat/Indonesia, Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua

Voice of Baptist Papua

Asian Human Rights Commission

Welcome to Suara Baptis Papua Online

SB - PAPUA-News

© Copyright 2011 suara baptis papua. Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Baptis. Show all posts
Showing posts with label Baptis. Show all posts

Pendeta Socrates: Akar Masalah Papua Adalah Pelurusan Sejarah

Written By Voice Of Baptist Papua on March 5, 2013 | 8:58 PM

Rev. Socratez S Yoman (photo jubi)
Jayapura Voice Baptist,-- Akar persoalan yang sangat mendasar di wilayah Indonesia timur itu bukan lebih kepada soal kesejahteraan seperti yang didengungkan selama ini oleh elite politik ataupun para pemerhati soal Papua, tetapi lebih kepada masalah pelurusan sejarah Papua ke Indonesia.
Jakarta, Aktual.co —Ketua pengurus badan Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGGBP), Pendeta Socrates Sofyan Yoman, mengatakan penyelesaian sejumlah persoalan di wilayah itu dapat dilakukan melalui dialog.

"Dan dialog damai yang bermartabat antara Indonesia dan Papua tanpa syarat dan dimediasi oleh pihak ketiga, itu solusinya," kata Socrates Sofyan Yoman usai peluncuruan buku "Otonomi Khusus Papua Telah Gagal" di aula STT GKI Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (2/3).

Menurut dia, akar persoalan yang sangat mendasar di wilayah Indonesia timur itu bukan lebih kepada soal kesejahteraan seperti yang didengungkan selama ini oleh elite politik ataupun para pemerhati soal Papua, tetapi lebih kepada masalah pelurusan sejarah Papua ke Indonesia.

"Akar pesoalanya bukan kesejahteraan tetapi soal sejarah Papua dengan Indonesia, hal inilah yang harus dibahas secara baik lewat dialog," katanya.

Ia mengatakan sejak 1961 telah banyak program yang berlaku di Papua hingga pada masa reformasi pada 1998. Pada tahun 1999 rakyat Papua meminta merdeka, namun yang diberikan oleh pemerintah pusat adalah otonomi khusus.

"Otsus adalah bargaining politik atau alat tawa-menawar Indonesia kepada rakyat Papua yang meminta merdeka. Namun Otsus yang berlaku hingga saat ini telah gagal dan orang Papua juga telah menolak hal itu," katanya.

Pendeta Socrates yang terkenal vokal itu mengatakan Otsus seharusnya bisa memberikan keberpihakan, pemberdayaan dan perlindungan, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

"Banyak kekerasan yang terjadi selama masa Otsus, dan bisa dibaca dalam buku saya," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Socrates Sofyan Yoman, Sabtu siang waktu setempat meluncurkan buku dengan judul "Otonomi Khusus (Otsus) Papua Telah Gagal" di aula STT GKI Padang Bulan, Kota Jayapura.

Buku setebal 408 halaman dengan latar belakang bewarna merah dan gambar pulau Papua itu isinya terdiri dari lima bab. Yang di antaranya membahas tentang latar belakang Otsus di Papua, Ostus sebagai solusi politik Indonesia, dan pemusnahan etnis Papua. Serta kejahatan negara dan pelanggaran HAM, kasus pelanggaran HAM 19 Oktober 2011 dan kasus penembakan Mako Tabuni 14 Juni 2012.

Buku tersebut diterbitkan oleh Cenderawasih Press dan merupakan buku yang kesekian kalinya ditulis oleh Socrates Sofyan Yoman yang dicetak oleh Galangpress di Jogyakarta.

Socrates lahir di Situbondo pada 15 Desember 1969 dan merupakan tokoh gereja yang vokal soal Papua. Dan merupakan dosen di berbagai Sekolah Tinggi Theologia di Kota dan Kabupaten Jayapura, yang pernah berbicara dengan staf khusus Sekjen PBB pada Oktober 2011.

"Pada 6 Maret ini, saya akan luncurkan buku baru lagi dengan judul "Saya Bukan Bangsa Budak" katanya.  (Ant)
 
 

Press Release, “Aparat Keamanan Indonesia Harus STOP Melakukan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Tanah Papua”

Written By Voice Of Baptist Papua on November 1, 2012 | 9:43 PM

Press Release: 
Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis sangat prihatin perilaku aparat keamanan Indonesia terhadap umat Tuhan di Tanah Papua.  Karena setelah Jenderal Kelly Kwalik dibunuh di Timika pada 16 Desember 2009 oleh TIM Gabungan TNI, POLRI, BRIMOB dan DENSUS 88 dan  Musa Mako Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB)  dibunuh oleh Densus 88 pada 14 Juni 2012 di Waena, Jayapura, penduduk asli  Papua diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak beradab dan aneh-aneh  seperti  penemuan-penemuan bom, peledakan bom, dan penangkapan warga sipil Papua dengan tuduhan memiliki amunisi hampir merata di seluruh Tanah Papua. 
 
Seperti contoh: Pemboman gedung DPRD Kabupaten Jayawijaya pada 1 September 2012  jam 02.15 WIT yang dilakukan OTK,  pelemparan bom di pos polisi lalulintas Kabupaten Jayawijaya pada 18 September 2012 jam 20.55 WIT,  penemuan bom di Timika, Jumat, 19 Oktober 2012,  penemuan 3 buah bom di Manokwari pada 9 Oktober 2012. Peledakan tiga bom rakitan di Sorong pada Minggu 28 Oktober 2012 malam pukul 22.00.  Pada 30 Oktober 2012 ada  penemuan amunisi kaliber 762 sebanyak 9 butir, peluru tajam 5 TJ 5,6 sebanyak 121 butir, peluru hamba 5,6 sebanyak 20 butir dan penangkapan empat pemuda  berinsial DIH (26) warga Organda, YP (28) warga Sampan Timika, AK(24) seorang wanita, warga Organda, YJW (27) warga Karubaga. (berita cepos, Rabu, 31 Oktober 2012).   Pada Rabu, 31 Oktober 2012 Polda Papua dan Polresta menangkap seorang warga sipil berinisial OG (27) di PTC Jayapura yang diduga pemilik amunisi.

Dari seluruh rangkaian “skenario”  dan  rekayasa  yang menonjolkan penduduk asli Papua sebagai pemilik amunisi dan pelaku bom seperti ini dapat memberikan gambaran   yang  SANGAT jelas bahwa  merupakan STRATEGI SISTEMATIS  yang diterapkan Pemerintah Republik Indonesia melalui  kekuatan aparat keamanan dengan beberapa tujuan, agenda dan target, yaitu:


  • Upaya  sistematis untuk menggagalkan tuntutan rakyat Papua untuk dialog damai yang diperjuangkan selama ini;
  • Upaya secara sistematis untuk menghancurkan  dan mengkriminalisasi perjuangan  damai hak penentuan nasib sendiri ( the right to self determination) rakyat Papua;
  • Upaya  sistematis  untuk  menjadikan perjuangan damai rakyat Papua untuk merdeka ke arah “teroris”,  supaya dunia Internasional tidak mendukung perjuangan rakyat Papua  dan sebaliknya aparat keamanan RI  mendapat dukungan dengan bantuan dana dari Pemerintah Amerika dan Australia, yang selama ini  berperan melatih dan mensponsori Densus 88 untuk  memerangi “teoris” di Indonesia.
  • Semua amunisi dan bom yang ditemukan dan diledakkan bukan milikdan dilakukan oleh penduduk asli Papua, tetapi ada aktor pemilik, penyuplai dan penggalangan beberapa pemuda asli Papua untuk membenarkan “menjustifikasi”  perjuangan politik rakyat Papua adalah perjuangan kriminal dan “teroris”. 

Rekomendasi:

  1. Seluruh rakyat Papua yang pendatang maupun penduduk asli Papua jangan terlalu cepat percaya bahwa bom-bom yang diledakan,  dan ditemukan serta amunisi yang ditemukan dari tangan penduduk asli Papua adalah bukan murni. Karena perjuangan mencari rasa keadilan dan hak politik penduduk Asli Papua adalah perjuangan damai yang sudah terbukti dan bukan dengan perjuangan kekerasan yang direkayasa belakangan ini.
  2. Aparat keamanan Republik Indonesia harus berhenti melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan bentuk rekayasa bom dan penemuan amunisi dari rumah-rumah orang asli Papua.  
  3. Pemerintah Republik Indonesia segera membuka ruang dialog damai tanpa syarat antara Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua yang dimediasi pihak ketiga yang netral karena Otonomi Khusus  sebagai solusi politik telah GAGAL menjawab kompleksitas persoalan Papua.  Dialog damai dengan syarat-syarat: (a)  Segera membebaskan semua tahanan politik seperti: Filep Karma, Forkorus Yaboisembut dan kawan-kawan tanpa syarat. (b) Menarik semua pasukan non-organik yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk asli Papua.
  4. Pemerintah Republik Indonesia segera membuka akses wartawan asing dan pekerjaan kemanusiaan untuk mengunjungi Papua.
  5. Pemerintah Republik Indonesia segera mengundang dan mengijinkan Pelapor Khusus PBB mengunjungi Papua.
 
Ketua Umum
Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,
 
Socratez Sofyan Yoman
===============================
Alamat Kantor: Jalan Jeruk Nipis Kotaraja, Jayapura/Numbay, Papua
HP: 08124888458


Moury Kogoya,M.Th. Terpilih Kembali Pimpin Jemaat Baptis Wilayah Jayapura

Written By Voice Of Baptist Papua on September 16, 2012 | 10:02 PM

Ketua Terpilih Moury Kogoya, M.Th. (ft Jubi)
Jayapura,Voice Baptist  (16/9) ---  Moury Kogoya yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja - Gereja Baptis (PGGB) Wilayah Jayapura, akhirnya terpilih kembali melalui Konferensi II yang diikuti perwakilan 19 jemaat yang ada di Kota dan Kabupaten Jayapura, di Sentani, Minggu.

Meski sudah sempat menyatakan akan mundur dan tidak mencalonkan dirinya lagi, namun atas desakan jemaat, Moury Kogoya, M. Th akhirnya maju mencalonkan diri memimpin PGGP wilayah Jayapura untuk kedua kalinya.
“Saya sudah menyatakan diri untuk mundur, mengingat banyak tugas luar yang harus dikerjakan, namun jemaat tetap ingin dan memilih saya sebagai ketua,” ujar Ketua PGGB Wilayah Jayapura, Moury Kogoya, M. Th, kepada Tabloidjubi.com, di Komba Sentani, Kabupaten Jayapura, tempat berlansungnya kegiatan selama dua hari, Minggu (15/9).

Moury Kogoya, yang juga Sekertaris Umum Badan Pelayanan Pusat (BPP) PGGB Papua ini menjelaskan,
bahwa karena jemaat yang memilih dan ini adalah sebuah pelayanan, sehingga ia mengambil tanggungjawab
tersebut. “Selain itu, saya juga Pembantu I Sekolah Baptis Papua di Kotaraja dan pengurus gereja-gereja
Jayapura yang masih baru, sehingga hampir tujuh kali saya harus menolak, tetapi jemaat memilih saya,” ucap
Moury Kogoya, yang dibenarkan Pimpinan Sidang Konferensi II PGGB Wilayah Jayapura, Pares L. Wenda.

Dikatakan, bahwa dirinya terpilih untuk menggembalakan umat Tuhan selama periode tahun 2012 – 2016,
yang mana dalam kegiatan yang dilakukan awal adalah mengaktifkan secara kontinyu ibadah-ibadah gabungan, baik di wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura. “Kegiatan ini sudah berjalan empat bulan sebelumnya, dimana kedepan juga akan dilakukan ibadah gabungan di wilayah Arso (Kabupaten Keerom), Juk dan Lereh (Kabupaten Jayapura). Walaupun wilayah yang jauh, namun ini adalah pelayanan dan tugas gereja untuk menjangkau umat Tuhan,” paparnya.

Lebih lanjut, ditambahkan bahwa pelayanan ke depan tetap optimis untuk melayani umat Tuhan sesuai prinsip-prinsip ajaran Baptis, yang mana Alkitab dan Salib Kristus sebagai landasan, sehingga dalampelayanan kami tidak dibatasi oleh wilayah teritorial.
“Gereja Baptis sangat mandiri dan otonom serta fleksibel, sehingga kami dalam menerima bantuan pemerintah sangat bersyukur. Tetapi jika proposal kami tidak dijawab, kami tetap bersyukur dan tetap mendukung jalannya roda pembangunan dan pemerintahan, karena gereja adalah mitra pemerintah,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum BPP Persekutuan Gereja – Gereja Baptis (PGGB) Papua, Nduma Socratez
Sofyan Yoman, MA., menilai bahwa hasil yang dicapai oleh konferensi jemaat Baptis Jayapura merupakan
suatu proses dinamika umat Baptis. “Saya kira sudah sesuai mekanisme dan prinsip- prinsip umat Baptis,
bahkan prinsip Baptis yang otonom, independen dan mandiri yang berlaku secara universal diseluruh umat
Baptis dunia,” katanya. 

Dirinya berharap, kepada pengurus untuk mempertahankan umat dan ajaran-ajaran Baptis yang bersumber
dari Allah, dari Alkitab dan dari Salib Yesus. “Pengurus tidak bicara di mimbar, tetapi mendemonstrasikan di dunia luar di luar tembok gereja, karena kekerasan kemanusiaan ada di mana-mana,,” pesan Socratez, yang baru saja meluncurkan buku "Pemusnahan Etnis Melanesia : Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat", tanggal 14 September 2012 di Jakarta.

Kegiatan konferensi diakhiri dengan ibadah bersama dan pelatikan badan pengurus PGGB Wilayah Jayapura
oleh Ketua BPP PGGB Papua, Socratez Sofyan Yoman dan acara makan bersama dengan jemaat-jemaat
Tuhan yang hadir di Gereja Baptis Manehi Komba, Sentani.
Editor news:  (Jubi/Eveerth)

Konferensi II Jemaat Baptis Rekomendasikan Dialog Jakarta – Papua

Jemaat Baptis Jayapura Mengikuti Konfrensi II (Jubi)
Jayapura,Voice Baptist(16/9) ---  Konferensi II Persekutuan Gereja – Gereja Baptis (PGGB) Wilayah Jayapura yang berlangsung selama tiga hari di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, mengeluarkan rekomendasi mendukung adanya Dialog Papua – Jakarta, yang di mediasi pihak ketiga yang netral.

Hal ini disampaikan Ketua PGGB Papua Wilayah Jayapura, Moury Kogoya, M. Th, kepada Tabloidjubi di Gereja Baptis Jemaat Manehi Komba, Sentani, Kabupaten Jayapura, tempat berlansungnya kegiatan selama tiga hari, Minggu (15/9).

“Ada dua hal yang menjadi rekomendasi inti dari konferensi ini, pertama adalah memajukan Injil Kristus sebagai dasar pelayanan gereja Baptis dan mendukung dialog antara warga Papua - Jakarta,” ujar Moury Kogoya, M.Th. 

Ketika ditanya, mengapa gereja Baptis mendukung proses Dialog Papua – Jakarta, Moury menjawab bahwa apa yang dilakukan adalah sebagai bagian dari identitas orang Papua, dimana gereja tidak bisa membohongi kondisi yang terjadi diluar mimbar atau diluar gedung gereja.

“Masyarakat Di Papua sudah tidak aman, sehingga gereja jangan menutup mata terhadap kondisi yang terjadi di sekitar kita. Karena itu jangan bangga dengan rumah toko (ruko) atau bangunan –bangunan yang makin
megah, namun kondisi realitasnya orang Papua masih tersisih dalam pembangunan,” nilainya.

Lebih lanjut, dirinya menilai masih saja terjadi ketimpangan dalam pendidikan, misalnya dana pendidikan
keluar negeri, programnya dari Papua, namun bukan orang Papua yang sekolah, dalam hal ini orang Papua
hanya dijadikan objek semata, bukan sebagai subjek.

“Kondisi lainnya, karena dijadikan subjek pembangunan sehingga banyak yang mati dimana-mana, ementara pejabat daerah di tingkat provinsi dan kabupaten bangga dengan jabatan tetapi melupakan masyarakat,  bahkan sering ke Jakarta padahal Rakyatnya ada di Papua, ada apa di Jakarta???,” katanya.

Moury menegaskan, bahwa gereja Baptis mendukung apa yang menjadi aspirasi rakyat Papua, khusus  dalam melihat permasalahan Papua dan kondisi umat Tuhan diatas Tanah Papua yang kini makin tersisih.
“Secara khusus soal ideologi juga tidak sama dan tidak bisa disamakan. Orang Asli Papua adalah orang yang hidup diatas kekayaannya, namun belum dilayani secara baik, sehingga kami ingin mengelola tanah kami
sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Umum BPP Persekutuan Gereja – Gereja Baptis (PGGB) Papua, Socratez Sofyan Yoman mengakui, bahwa apa yang dihasilkan oleh komisi-komisi hingga program tidak keluar dari apa yang
dianut oleh umat Baptis. “Karena hasil-hasil yang disepakati tidak hanya diatas kertas secara teori, namun
akan di demonstrasikan dalam realita masyarakat Papua pada umumnya,” tuturnya.

Dirinya mencontohkan, beberapa waktu lalu pihaknya mewakili gereja Baptis Papua memberikan dukungan
dan sprit kepada salah satu tahanan politik Papua, Filep Karma, yang kini sedang menjalani perawatan di
Jakarta, berupa bantuan sumbangan dana dari gereja Baptis Papua.

“Kami ikut merasakan apa yang dialami umat Tuhan di Papua, sebagaimana telah dikumpulkan umat Tuhan
jemaat Baptis hingga mencapai dana sekitar seratus juta lebih untuk biaya pengobatan Filep Karma, dananya
lansung ke rekening, hal-hal ini mungkin telah dilakukan gereja lain, tetapi inilah wujud pelayanan dari kami
gereja Baptis,” tandasnya.

Konferensi II Jemaat Baptis Jayapura yang berjalan selama tiga hari, terbagi dalam 7 komisi, masing-masing Komisi A yang membahas evaluasi program dan syarat pemilihan badan pengurus, Komisi B membahas amandemen dan peraturan wilayah, Komisi C membahas bidang keuangan, Komisi D membahas kaum bapak dan ibu, Komisi E membahas pemuda  dan  sekolah minggu, Komisi F membahas masalah Hak Asasi Manusia (HAM) serta Komisi G membahas rekomendasi.  Hasil rekomendasi tersebut akan di bawa dalam Kongres XVII tanggal 9 - 14 Desember 2012 di Wamena.

Editor: Jubi

Surat Terbuka Kepada Presiden RI. tentang aksi teror yang dialami oleh Pdt.Socratez Sofyan Yoman dari aparat Polisi Polda Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on July 12, 2012 | 2:03 AM

BAPTIST HUMAN RIGHTS FOR WEST PAPUA
(Baptis Voice)
Jl.Jeruk Nipis Kotaraja No.103 .P.O.Box 1212 Jayapura, Papua
Mobile: 08124892975, email: matiusmurib@yahoo.com
http://suarabaptis.org http://suarabaptis.blogspot.com


Nomor : 01/BV/VII/2012
Sifat     : Mendesak
Perihal : Surat Terbuka Kepada Presiden RI: Dr.H. Susilo Bambang Yudoyono tentang aksi teror yang 
             dialami oleh Pdt.Socratez Sofyan Yoman dari aparat Polisi Polda Papua


Kepada Yang Terhormat:
Presiden Republik Indonesia: Dr.Susilo Bambang Yudoyono
Istana Negara, Jalan Veternan No 16 Jakarta Pusat
Di -
J a k a r t a


Salam Sejahtera,

Surat terbuka kami ini, terkait dengan aksi teror yang dialami Pdt.Socratez Sofyan Yoman, Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua dan juga tokoh pejuang Hak Asasi Manusia bagi kaum tertindas, kaum tak bersuara di atas tanah Papua.

Pada 6 Juli 2012, pukul 19.30 WIT. Pdt. Socratez Sofyan Yoman bersama Matius Murib (Mantan Wakil Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Papua dan sekarang Direktur Baptist Human Rights for West Papua (Baptist Voice), bersama ke dua (2) anaknya Charles Marnixon Tabah Yoman, Arnol Nelson Mandela Yoman dan keponakannya Ricky Wenda, menjemput istri yang pulang sesudah ibadah di kota Raja luar.

Tepat di depan perpustakaan nasional kota raja, jalan raya Jayapura - Abepura, sejumlah anggota Polisi dari Brimob Polda Papua menggunakan kendaraan truck milik Brimob menuju ke arah Abepura. Secara tidak sengaja Pdt. Socratez Sofyan Yoman menggunakan lampu sorot panjang dari mobil yang digunakannya, ke depan atau ke arah truck milik Brimob yang posisinya di depan mobil yang dikendarai Pdt.Socratez Sofyan Yoman, tujuannya untuk memastikan tidak ada hambatan di depan; ketika itu Pdt.Socratez Sofyan Yoman menggunakan mobil rental merk Avanza kaca mobil avanza hitam (riben) yang cukup tebal, sehingga menghambat jarak pandang Pdt.Socratez Sofyan Yoman. Pdt.Socratez Sofyan Yoman tidak bermaksud mengganggu siapapun termasuk aparat Pilisi pada saat itu.

Pdt.Socratez Sofyan Yoman berencana membeli Koran Kompas, sehingga berhenti di depan toko Mega Abepura. Pada saat parkir dan hendak keluar dari mobilnya, Pdt.Socratez Sofyan Yoman mulai diteror; dengan bentuk-bentuk terornya sebagai berikut:

1. Mobil Pdt.Socratez Sofyan Yoman didekati oleh 4 orang anggota Brimob berseragam; langsung
menendang pintu mobil dan dibuka paksa pintu dan jendela.

2. Cahaya Senter yang terang-benderang dari seorang anggota Polisi diarahkan pada mata Pdt.Socratez Sofyan Yoman, dan bertahan sekitar 5 menit.

3. Mengata-ngatai Pdt.Socratez Sofyan Yoman dengan kata-kata yang kurang sopan dengan nada membentak dengan nada tinggi antara lain: kenapa berhenti disini? anda siapa? Dari instansi mana? tinggal di mana, dari mana? Kalau anda tidak senang polisi bicara... jangan caranya begitu".

4. Ketika dihentikan oleh Matius Murib, oknum polisi yang senter mengatakan, anda siapa jangan ikut campur, lalu di jelaskan oleh Matius Murib bahwa saya tadi ikut bersama dalam mobil ini, dan orang yang anda tanyakan ini adalah orang besar, tokoh, Ketua Sinode Baptis Papua, Pdt. Socratez Sofyan Yoman, jadi bicara baik-baik, jangan caranya arogan seperti begini.

5. Seorang lain, yang berpakaian preman, yang mengendarai motor dan mengenakan topi helm berhenti di tempat itu dan berkata: saya sama dengan anda (maksudnya sama-sama Polisi), kalau ada masalah hukum di ajak ke kantor Polsek saja, jangan di sini, menarik perhatian banyak orang, pesanya kepada anggota Polisi yang sedang meneror Pdt. Socratez Sofyan Yoman dan Matius Murib dan keluarganya ibu dan anak-anak di dalam mobil yang juga ikut menyaksikan peristiwa tidak etis tersebut.

6. Pdt. Socratez Sofyan Yoman, mengatakan kepada anggota polisi, anda punya nama siapa? saya akan laporkan anda ke Kapolda dan Wakapolda Papua, Pak Paulus Waterpauw, dia teman saya yang baik. Lalu di balas oleh Polisi tersebut bahwa silahkan lapor saja, kami tidak takut kok; lalu pergi.

Pdt.Socratez Sofyan Yoman saat dihadang dengan pertanyaan berubi-tubi, sempat menyampaikan-kata permohonan maaf sekitar lima kali dengan kata-kata: “saya minta maaf, kalau memang lampu sorot panjang itu dapat mengganggu kamu, tetapi anggota Polisi itu tidak merespon permintaan maaf justru lebih menekan Pdt.Socratez Sofyan Yoman sehingga tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak dapat melihat karena sinar senter yang terus diarahkan ke arah dua matannya.

Berkaitan dengan situasi seperti yang disebutkan di atas, Baptist Voice menilai bahwa tindakan aparat keamanan (Polisi) ini sudah berlebihan dan arogan, tidak etis dan tidak professional; karena:

1. Pdt.Socratez Sofyan Yoman menggunakan Mobil Avanza dengan lampu sorot panjang yang tentu saja daya jelajanya rendah.
2. Brimob pada hari itu menggunakan Truck, jadi lampu sorot jauh pada mobil avanza dengan ketinggian truk mobil brimob dalam jarak dekat sebenarnya tidak terlalu mengganggu. Korelasi antara mobil avanza dan truck dalam jangkauan lapu sorot mobil avanza ke mata anggota Brimob sangat tidak masuk akal.
3. Alasan teror kepada Pdt.Socratez Sofyan Yoman karena dianggap mengganggu perjalanan anggota Polisi dengan menggunakan lampu sorot kepada mereka.
4. Impunitas aparat terhadap hukum masih saja terjadi dan terlihat hingga saat ini;
5. Terbukti dari tindakan teror yang dialami seorang tokoh besar Pdt.Socratez Sofyan Yoman;
6. Arogansi aparat (brimob) terlihat saat ini, hal ini mengindikasikan bahwa hal yang sama dialami oleh seluruh warga masyarakat Papua di negeri dan dusun-dusun mereka. sebagai contoh kasus, pembunuhan Kelly Kwalik di Timika tahun 2009, dan Pembunuhan Kilat Maco Tabuni di Jayapura tahun 2012, dan lain-lain.
7. Teror aparat kepada pemimpin umat Tuhan merupakan teror bagi rakyat Papua, karena pijakan, tumpuan, rasa percaya diri rakyat bertumpuh pada pimpinan umat, maka pemimpin umat di teror itu sama artinya dengan seluruh rakyat Papua di teror.

Berdasarkan fakta dan aksi teror tersebut, Baptist Voice menyatakan sebagai berikut:

1. Protes kepada Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono, bahwa kampanye Presiden tentang pendekatan pembangunan di Papua dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) di tingkat dunia dan nasional hanya slogan belaka. Kenyataan menunjukkan bahwa menghadapi orang asli Papua masih saja terjadi pendekatan keamanan (security approach) yang militeristik.

2. Sejumlah data intelijen yang beredar di media massa dengan sejumlah nama tokoh Papua yang menjadi target operasi tumpas semakin menjadi kenyataan dengan terbunuhnya publik figur Kelly Kwalik di Timika, Mako Tabuni (Ketua I Komite Nasional Papua Barat) dan teror fisik terhadap Pdt. Socratez Sofyan Yoman.

3. Mengevaluasi total kinerja aparat keamanan TNI/Polri di tanah Papua;

4. Mempercepat realisasi Perundingan Jakarta - Papua tanpa syarat yang dimediasi pihak netral

5. Mengungkap, menangkap dan memproses hukum semua pelaku kekerasan dan teror di tanah Papua selama ini oleh tim Independen.


Demikian surat terbuka ini kami sampaikan kepada Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono

Sekian dan terima kasih.


Di keluarkan di : Jayapura
Pada Tanggal : 12 Juli 2012


Baptist Human Rights for West Papua
(Baptist Voice)

PEPERA 1969, Otonomi Khusus 2001, UP4B 2011

Written By Voice Of Baptist Papua on February 15, 2012 | 4:23 PM

Ketua PGBP Socratez Soryan Yoman (foto pgbp)
“Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan tulang punggungnya pemerintahan militer” (Amiruddin Al Rahab: Heboh Papua, Perang Rahasia, Trauma Dan Separatisme: 2010,  hal. 42)

Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia selalu mengkleim bahwa PEPERA 1969 sudah sah dan status Papua dalam wilayah Indonesia sudah final. Namun, dalam realitasnya, Rakyat Papua, penduduk asli Papua sebagai pemilik negeri dan ahli waris Tanah Papua ini sampai saat ini masih mempertanyakan status politik mereka dalam
wilayah Indonesia  dengan mempersoalkan PEPERA 1969. Penduduk asli Papua sebagai saksi  dan korban sejarah terus menyatakan bahwa PEPERA 1969 dilaksanakan dibawah tekanan militer Indonesia. Rakyat Papua selalu dan terus-menerus menyatakan bahwa masa depan dan hak politik rakyat Papua benar-benar dihancurkan oleh militer Indonesia.  Simson Barias (alm.), pernah berkata kepada saya, “PEPERA pada tahun 1969 itu dimenangkan oleh Tentara Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang kejam dan jahat.”  Pelaku sejarah PEPERA 1969, Gemenagi Wenda (alm.) pernah berkata kepada saya, “ PEPERA 1969 itu suatu penipuan orang-orang Indonesia dan tentara Indonesia jaga kami seperti orang-orang jahat.  Kami disuruh bicara merdeka-merdeka.” 

Opini: Otonomi Khusus Telah Gagal di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on February 10, 2012 | 9:34 PM


Oleh: Socratez Sofyan Yoman

“…Setiap dusta harus dilawan. Menang atau kalah. Lebih-lebih dusta yang mengandung penindasan.” (Mayon Soetrisno)

Ketua Umum PGBP, Socratez Sofyan Yoman (foto Litbag pgbp)
Saya menghargai pandangan tentang sejarah PEPERA 1969 yang disampaikan oleh saudara Mayor Inf Tri Ubaya, S.H., Kasi Lisainfo Pangdam XVII/Cenderawasih (Bintang Papua, Kamis, 02 Februari 2012, hal.5)   dengan topik: “Sejarah…….Mengapa? Mari Kita Jawab Dengan Karya Nyata Bukan Wacana.”  Tulisan ini menanggapi  opini saya dalam media Bintang Papua, Selasa, 02 Februari 2012 dengan topik: “ PEPERA 1969 di Papua Adalah Sejarah Palsu dan Cacat Hukum.”  Jadi, metode cerdas, intelektual, dan bermatabat  serta manusiawi seperti ini yang perlu kita tumbuh kembangkan  dalam memperdebatkan atau berargumen dalam mensiasati setiap masalah di Papua.   Saya yakin, setiap pembaca  dapat menilai dan mengerti tulisan saya dan juga tulisan saudara Tri.  Tentu saja, masalah  sejarah PEPERA 1969 sudah menjadi jelas bagi kita semua dari kedua opini tadi. Tapi saran saya,  bagi para pembaca yang  belum jelas,  membaca buku saya berjudul: West Papua :Persoalan Internasional (2011); Integrasi Belum Selesai (2010);  Gereja dan Politik di Papua Barat ( 2010), dan juga membaca buku P.J. Drooglver  dan Dr. John Saltford tentang PEPERA 1969 di Tanah Papua.

President Struck, There BMPs in Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on December 25, 2011 | 3:58 AM

Pdt. Socrates Sofyan Yoman
Recorded When meeting President Susilo Bambang Yudhoyono and Church Leaders Church in Papua at the Palace Cikeas, Bogor, December 16, 2011

JAYAPURA Rows of Red and White-Gait (BMPs) are always voiced the aspirations of the Unitary Republic of Indonesia (NKRI) final, turns out to shock President DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono.
This was conveyed Chairman of the Central Services Agency Alliance Baptist  of Papua Church, Rev.. Socrates Sofyan Yoman MA during a press conference at the Office of the Synod of the Church KINGMI in Papua, Jayapura, on Thursday (22/12)

Kalau Kami di Dalam NKRI, Kami Habis

Written By Voice Of Baptist Papua on December 21, 2011 | 7:23 PM

Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay.
Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay. (sumber: kabargereja.tk)
Ada kekuatan negara yang menyebar isu Papua Merdeka.

Pimpinan gereja-gereja di tanah Papua bertemu dengan Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Jawa Barat pada Jumat kemarin.

Mereka adalah Ketua Sinode GKI di tanah Papua Pendeta Jemima J. Krey,  Ketua Sinode Kingmi di tanah Papua Pendeta Benny Giay, Ketua Umum Badan Pelayanan Pusat Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua Pendeta Socratez Sofyan Yoman, dan Majelis Umum Sinode Nasional Gereja Kristen Alkitab Indonesia Pendeta Martin Luther Wanma.

Clashes as West Papuans mark independence call

Written By Voice Of Baptist Papua on December 1, 2011 | 6:50 PM

West Papua Baptist Church, Reverend Socrates Yeoman
Indonesian security forces and West Papuan activists have clashed during protests to mark the 50th anniversary of the province declaring independence.
Local television stations showed footage of police driving through crowds of protesters who were waving Papuan independence flags and cheering.
The footage showed police firing shots into the air, violently wrestling protesters to the ground, and confiscating the province's banned independence flag.
There are also reports protesters were shot but this cannot be confirmed as the ABC is not allowed into the region.
TV reports also showed images of an Indonesian policeman who it is claimed was shot with an arrow during the clashes.

Gereja Baptis Akan Tuntut Polresta Jayapura

Written By Voice Of Baptist Papua on October 7, 2011 | 5:28 PM

Moury Kogoya (Sekretaris PGBP)
JUBI --- Terkait barang dan uang milik 13 warga sipil yang hilang, Gereja Baptis Papua di Jayapura akan menuntut Kepolisian Resort Kota Jayapura. Korps berbaju cokelat ini didesak untuk segera mencari dan mengembalikan sisa barang serta uang yang hilang.

Sekretaris umum Gereja Baptis Papua di Jayapura, Maury Kogoya mengatakan, pihaknya akan menuntut Kepolisian Resort Kota Jayapura agar segera mengembalikan sisa barang yang belum dan uang yang hilang. “Kami akan mendesak pihak polisi agar segera mengembalikan sisa barang dan uang,” ujar Maury Kogoya kepada tabloidjubi.com di Abepura, Jumat (7/10) malam.

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger