SUARA BAPTIS PAPUA

Dukung Aksi Perdamaian Atas Kekerasan di Papua Barat.
Jika Anda Peduli atas kemanusiaan Kaum tertindas di Papua barat Mohon Suport di sini:

Please donate to the Free West Papua Campaign U.K.
Kontribusi anda akan kami melihat ada perubahan terhadap cita-cita rakyat papua barat demi kebebasan dan kemerdekaannya.
Peace ( by Voice of Baptist Papua)

Apa Solusi Atas Konflik Papua?

Scoop Voice Baptist

About Me

My Photo
Papua, Papua barat/Indonesia, Indonesia
Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua tidak akan pernah memilih diam ketika umat ditintas dan akan terus bersuara sampai keadilan benar-benar terjadi di tanah papua

Voice of Baptist Papua

Asian Human Rights Commission

Welcome to Suara Baptis Papua Online

SB - PAPUA-News

© Copyright 2011 suara baptis papua. Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Aparat. Show all posts
Showing posts with label Aparat. Show all posts

Polisi Razia Sajam dan Dokumen Papua Merdeka

Written By Voice Of Baptist Papua on June 10, 2013 | 8:19 PM

FAKFAK - Anggota Polisi berseragam lengkap maupun berpakain preman Senin (10/6) sekitar jam 8.00 wit disebarkan di seputaran pasar Thumburuny. Mereka melakukan razia senjata tajam, senjata api dan dokumen–dokumen yang berbau Papua merdeka. Setiap kendaraan angkutan umum maupun ojek yang melintasi jalan di dekat pasar Thumburuny dihentikan untuk memeriksa penumpang satu persatu guna merazia senjata tajam, senjata api maupun dokumen – dokumen yang berbau Papua merdeka.

Dalam razia sajam, senpi dan dokumen – dokumen Papua merdeka yang  digelar selama kurang lebih sejam lamanya tidak ditemukan sajam, senpi dan dokumen yang berbau Papua merdeka. Razia sajam, senpi dan dokumen Papua Merdeka yang digelar selama kurang lebih satu jam lamanya untuk mengantisipasi kegiatan KNPB akan digelar di pelataran parkir pasar Thumburuny Senin (10/6) sekitar jam 10:00 Wit.

Usai menggelar razia, polisi berseragam lengkap dengan senjata laras panjang yang dipimpin Kabag. Ops. Polres Fakfak, Kompol.  Tony B.M, bersiaga di pelataran parkir guna mengantisipasi KNPB yang akan digelar di pelataran parkir pasar Thumburuny. Namun hingga jam 2 siang, KNPB tidak muncul untuk menggelar aksinya sehingga seluruh anggota berseragam lengkap digeser kembali ke Mako Polres Fakfak. Kabag. Ops. Polres Fakfak, Kompol. Tony B.M, kepada Radar Sorong, mengatakan, razia yang digelar guna mengantisipasi kegiatan KNPB yang tidak diijinkan Polres Fakfak.

Menurutnya, rencana kegiatan KNPB yang akan dilaksanakan di pelataran parkir pasar Thumburuny, memang tidak diijinkan Polres Fakfak sehingga bila KNPB  tetap memaksakan kehendak untuk melaksanakan kegiatan maka aparat Polisi berseragam lengkap akan membubarkan dengan paksa, tandas. “Rencana KNPB melaksanakan kegiatan di pelataran parkir pasar Thumburuny tidak diijinkan Polres Fakfak, sehingga bila dipaksakan maka Polisi akan membubarkan kegiatan tersebut,” tegas Tony.

Hanya saja hingga jam 2.00 siang tidak ada kegiatan syukuran bersama yang akan dilaksanakan KNPB sehingga benturan pun tidak terjadi antara pihak keamanan dengan KNPB.

Press Release, “Aparat Keamanan Indonesia Harus STOP Melakukan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan di Tanah Papua”

Written By Voice Of Baptist Papua on November 1, 2012 | 9:43 PM

Press Release: 
Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua

Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis sangat prihatin perilaku aparat keamanan Indonesia terhadap umat Tuhan di Tanah Papua.  Karena setelah Jenderal Kelly Kwalik dibunuh di Timika pada 16 Desember 2009 oleh TIM Gabungan TNI, POLRI, BRIMOB dan DENSUS 88 dan  Musa Mako Tabuni, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB)  dibunuh oleh Densus 88 pada 14 Juni 2012 di Waena, Jayapura, penduduk asli  Papua diperhadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang tidak beradab dan aneh-aneh  seperti  penemuan-penemuan bom, peledakan bom, dan penangkapan warga sipil Papua dengan tuduhan memiliki amunisi hampir merata di seluruh Tanah Papua. 
 
Seperti contoh: Pemboman gedung DPRD Kabupaten Jayawijaya pada 1 September 2012  jam 02.15 WIT yang dilakukan OTK,  pelemparan bom di pos polisi lalulintas Kabupaten Jayawijaya pada 18 September 2012 jam 20.55 WIT,  penemuan bom di Timika, Jumat, 19 Oktober 2012,  penemuan 3 buah bom di Manokwari pada 9 Oktober 2012. Peledakan tiga bom rakitan di Sorong pada Minggu 28 Oktober 2012 malam pukul 22.00.  Pada 30 Oktober 2012 ada  penemuan amunisi kaliber 762 sebanyak 9 butir, peluru tajam 5 TJ 5,6 sebanyak 121 butir, peluru hamba 5,6 sebanyak 20 butir dan penangkapan empat pemuda  berinsial DIH (26) warga Organda, YP (28) warga Sampan Timika, AK(24) seorang wanita, warga Organda, YJW (27) warga Karubaga. (berita cepos, Rabu, 31 Oktober 2012).   Pada Rabu, 31 Oktober 2012 Polda Papua dan Polresta menangkap seorang warga sipil berinisial OG (27) di PTC Jayapura yang diduga pemilik amunisi.

Dari seluruh rangkaian “skenario”  dan  rekayasa  yang menonjolkan penduduk asli Papua sebagai pemilik amunisi dan pelaku bom seperti ini dapat memberikan gambaran   yang  SANGAT jelas bahwa  merupakan STRATEGI SISTEMATIS  yang diterapkan Pemerintah Republik Indonesia melalui  kekuatan aparat keamanan dengan beberapa tujuan, agenda dan target, yaitu:


  • Upaya  sistematis untuk menggagalkan tuntutan rakyat Papua untuk dialog damai yang diperjuangkan selama ini;
  • Upaya secara sistematis untuk menghancurkan  dan mengkriminalisasi perjuangan  damai hak penentuan nasib sendiri ( the right to self determination) rakyat Papua;
  • Upaya  sistematis  untuk  menjadikan perjuangan damai rakyat Papua untuk merdeka ke arah “teroris”,  supaya dunia Internasional tidak mendukung perjuangan rakyat Papua  dan sebaliknya aparat keamanan RI  mendapat dukungan dengan bantuan dana dari Pemerintah Amerika dan Australia, yang selama ini  berperan melatih dan mensponsori Densus 88 untuk  memerangi “teoris” di Indonesia.
  • Semua amunisi dan bom yang ditemukan dan diledakkan bukan milikdan dilakukan oleh penduduk asli Papua, tetapi ada aktor pemilik, penyuplai dan penggalangan beberapa pemuda asli Papua untuk membenarkan “menjustifikasi”  perjuangan politik rakyat Papua adalah perjuangan kriminal dan “teroris”. 

Rekomendasi:

  1. Seluruh rakyat Papua yang pendatang maupun penduduk asli Papua jangan terlalu cepat percaya bahwa bom-bom yang diledakan,  dan ditemukan serta amunisi yang ditemukan dari tangan penduduk asli Papua adalah bukan murni. Karena perjuangan mencari rasa keadilan dan hak politik penduduk Asli Papua adalah perjuangan damai yang sudah terbukti dan bukan dengan perjuangan kekerasan yang direkayasa belakangan ini.
  2. Aparat keamanan Republik Indonesia harus berhenti melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan bentuk rekayasa bom dan penemuan amunisi dari rumah-rumah orang asli Papua.  
  3. Pemerintah Republik Indonesia segera membuka ruang dialog damai tanpa syarat antara Pemerintah Indonesia dan rakyat Papua yang dimediasi pihak ketiga yang netral karena Otonomi Khusus  sebagai solusi politik telah GAGAL menjawab kompleksitas persoalan Papua.  Dialog damai dengan syarat-syarat: (a)  Segera membebaskan semua tahanan politik seperti: Filep Karma, Forkorus Yaboisembut dan kawan-kawan tanpa syarat. (b) Menarik semua pasukan non-organik yang tidak seimbang dengan jumlah penduduk asli Papua.
  4. Pemerintah Republik Indonesia segera membuka akses wartawan asing dan pekerjaan kemanusiaan untuk mengunjungi Papua.
  5. Pemerintah Republik Indonesia segera mengundang dan mengijinkan Pelapor Khusus PBB mengunjungi Papua.
 
Ketua Umum
Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,
 
Socratez Sofyan Yoman
===============================
Alamat Kantor: Jalan Jeruk Nipis Kotaraja, Jayapura/Numbay, Papua
HP: 08124888458


Oknum Aparat Paksa Pasien Tinggalkan RSUD Paniai

Written By Voice Of Baptist Papua on August 23, 2012 | 9:07 PM

Pasien di RS (photo Ilustrasi)
JAKARTA -- RSUD Kabupaten Paniai, Propinsi Papua, mencekam, karena didatangi sekelompok oknum Brimob setempat dan TNI. Mereka mencabuti infus pasien dan meminta mereka serta perawat dan dokter di dalamnya meninggalkan RSUD. Seluruh petugas rumah sakit serta pasien yang tengah dirawat meninggalkan rumah sakit sejak Selasa (21/8). Ini akibat intimidasi dari aparat keamanan setelah tertembaknya seorang anggota Brimob.

"Ini membuat masyarakat ketakutan," jelas Koordinator National Papua Solidarity (Napas), Marthen Goo, di Jakarta, Kamis (23/8). Dikatakannya, mereka semua meninggalkan rumah sakit dengan berjalan kaki.

Marthen menyatakan yang tragis adalah pasien yang menderita sakit parah. Mereka membutuhkan perawatan intensif. Kondisi ini membuat trauma karena oknum yang berkelompok itu memasuki rumah sakit dengan membawa senjata laras panjang. Pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan medis justru harus pulang karena ulah mereka.

Marthen meminta agar pemerintah tidak tinggal diam. Mereka yang terlibat dalam penciptaan kondisi mencekam itu harus ditindak secara hukum. "TNI dan Polri tidak boleh tinggal diam," imbuhnya.

Dia menduga insiden ini terjadi karena oknum Polri dan TNI tidak terima dengan ditembaknya personel Polri setempat, Brigadir Yohan Kisiwaitoi, hingga tewas di ujung Bandara Enartotali. Timah panas menembus bagian dada sebelah kiri. Penembakan terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Pelaku melarikan diri. Polisi kini tengah memburu pelaku penembakan, dan belum diketahui motif dari penembakan tersebut.

Yohan tengah bersama rekannya, yakni Briptu Gustab Wartanoi, sedang bersama-sama mencuci mobil. Kemudian rekannya pergi untuk membeli makan, sehingga korban Yohan Kisiwatoi sendiri mencuci mobil dan tiba-tiba ditembak oleh orang tak dikenal.

Marthen menduga berdasarkan informasi yang dihimpun, penembaknya adalah oknum Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) di bawah komando John Magai Yogi. Belum diketahui jelas apa motifnya. Namun TPN selalu menyerang aparat Polri maupun TNI karena pihak TPN selalu diserang oleh dua pihak ini. TPN dianggap sebagai pemberontak yang mengancam kemerdekaan Indonesia.

Redaktur: Dewi Mardiani ( http://www.republika.co.id/)
Reporter: Erdy Nasrul

PGBP : "Aparat Keamanan Lakukan Pembohongan Publik Terkait Penembakan Mako Tabuni"

Written By Voice Of Baptist Papua on June 24, 2012 | 4:52 PM

Socratez Sofyan Yoman (Ketua Umum PGBP)
Jayapura VB,---Dalam bulan Mei-Juni 2012, di Tanah Papua pada umumnya, dan lebih khusus di ibu kota Provinsi Papua telah terjadi kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh OTK dan aparat keamanan sendiri, telah memperlihatkan wajah kejahatan dan kegagalan Negara untuk melindungi warga Negaranya. Demikian siaran pers Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua (PGBP) yang disampaikan kepada tabloidjubi.com
melalui surat elektronik, Minggu (24/6) malam.

"Kekerasan dan kejahatan telah ini menimbulkan keresahan dan ketakutan yang luar biasa di tengah-tengah penduduk Asli Papua dan non Papua. Rasa saling curiga antara Papua dengan pendatang, aparat keamanan dengan orang asli Papua.
Ditambah lagi dengan beredarnya berita SMS yang tidak bertanggunjawab yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan umat Tuhan di Tanah Papua." kata Socratez
Sofyan Yoman, Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua. Seperti diketahui bersama, kasus kejahatan terhadap kemanusiaan yang memilukan dan mencederai hati nurani manusia yang dilakukan Orang Terlatih Khusus (OTK) adalah menembak mati  Terloji Weya pada 1 Mei 2012 di Abepura; Arkhilaus Rafutu (45) pada 19 Mei 2012 di Mulia, Puncak Jaya; Paulus Tandiesse (20) pada 22 Mei 2012 di Skyline, Jayapura; Syaiful Bahri (24) di Waena, Jayapura, 22 Mei 2012 (terbakar dalam mobil); Anthon Aruang Tandila (47) pada 29 Mei 2012 di Mulia, Puncak Jaya; Ajud Jimmy Purba (19) di Waena, Jayapura, pada 3 Mei 2012; Tri Sarono di Abepura, Jayapura,pada 10 Juni 2012.

Sedangkan masyarakat sipil yang ditembak mati oleh aparat keamanan baik dari pihak TNI dan POLRI adalah Yesaya Mirin (21) di Sentani, Jayapura, pada 4 Juni 2012 yang dibunuh oleh kepolisiaan; Imanuel Paniel T aplo (20) di Jayapura, pada 4 Juni 2012 dibunuh oleh kepolisian; Elius Yoman (30) dibunuh oleh anggota Batalyon 756 di Wamena, pada 6 Juni 2012; Teyu Tabuni (20) di Dok V Jayapura, pada 7 Juni 2012 dibunuh oleh kepolisian; Mako Tabuni, Wakil Ketua I KNPBoleh aparat kepolisiaan di Waena,Jayapura, pada 14 Juni 2012.
Selain itu, pada tanggal 4 Juni 2012, pada jam pukul 22.00 WIT, di Entrop, Jayapura,Orang Tak Dikenal (OTK) menembak anggota TNI Pratu Doengki Kune dari kesatuan Denzipur 10 yang mengenai bagian bawah dagu sebelahkanan tembus ke sebelah kiri dan tulang dagu pecah. Pada 4 Juni 2012, jam 22.10, di Jalan Samratulagi Jayapura, dengan kantorperhubungan Provinsi Papua yang berjarak sekitar 30 meter dari Markas Polda Papua,OTK mengikuti dan menembak Iqbal dan Ardi Jayanto  dengan 1 (satu) kali tembakan mengenai pinggang dan tembus ke perut kanan dan ke pinggang belakang Ardi. Gilbert Febrian Mardika, (16), siswa SMA Kalam Kudus ditembak Orang Tak Dikenal (OTK) di Skyline Jayapura, pada 4 Juni 2012. Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Jayapura dan dalam keadaan kritis. Pieper Dietmar Helmut (55/lak-laki) warga Negara Jerman ditembak oleh Orang Tak Dikenal OTK) di Pantai Base G pada 29 Mei 2012. Dan pengiriman berita provokatif yang tidak bertanggungjawab melalui SMS yang dinyatakan bahwa orang gunung akan menyerang orang pendatang.

Analisa PGBP tentang tujuan dan misi utama yang mau dicapai melalui peristiwa kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah diuraikan tadi, menurut Yoman adalah sebagai berikut:
Pertama, peristiwa-peristiwa tadi merupakan reaksi dari Universal Periodic Review (Tinjauan Periodik Umum) dari Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss, pada 23 Mei 2012; dari hampir 14 Negara termasuk Amerika Serikat  mempertanyakan kekerasan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Pemerintah dan aparat keamanan Indonesia terhadap penduduk asli Papua. Karena itu Orang Terlatih Khusus yang disebut Orang Tak Dikenal (OTK) berusaha mengubah opini masyarakat internasional dan anggota PBB bahwa perjuangan damai rakyat dan bangsa Papua diarahkan pada perjuangan dengan pendekatan kekerasan dan melanggar Hak Asasi Manusia. OTK berusaha menunjukkan bukti bahwa rakyat Papua menembak Warga Negara Asing (WNA), anggota aparat keamanan dan warga sipil pendatang.
Kedua, Orang Terlatih Khusus yang disebut Orang Tak Dikenal (OTK) berusaha mengalihkan perlawanan vertikal antara rakyat dan bangsa Papua dengan Pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun hampir 51 tahun sejak 1961 untuk mencari rasa keadilan dan hak politik rakyat Papua diarahkan kepada perlawanan orizontal antara orang Papua dengan orang-orang pendatang. Itu terbukti dengan penembakan dari OTK terhadap orang-orang non-Papua dan aparat keamanan yang akan membenarkan (menjustifikasi) bahwa pelaku-pelaku kekerasan dan kejahatan kemanusiaan adalah orang asli Papua.
Ketiga, pembunuhan Musa Mako Tabuni dengan tiga tujuan: (1) Semua penembakan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Orang Terlatih Khusus (OTK) dituduhkan kepada Musa mako Tabuni dan KNPB; (2) untuk menghilangkan jejak supaya rahasia-rahasia kerja sama dengan OTK selama ini tidak terbongkar; (3) Negara dan Pemerintah Indonesia melalui kekuatan aparat keamanan berkomitmen dan secara sistematis, brutal dan cara-cara kriminal untuk menghancurkan gerakan perlawanan sipil rakyat dan bangsa Papua Barat.
Keempat, aparat keamanan melakukan pembohongan publik tentang penembakan dan pembunuhan terhadap Musa Mako Tabuni. Aparat keamanan Indonesia menyatakan bahwa Musa Mako Tabuni melakukan perlawanan pada saat aparat keamanan berusaha menangkapnya dan Mako Tabuni memegang pistol untuk menembak aparat keamanan. Berita ini sangat memalukan dan menghancurkan kredibitlitas
aparat keamanan Indonesia di mata rakyat Indonesia dan masyarakat Internasional. Karena yang benar adalah Musa Mako Tabuni tidak melakukan perlawanan dan tidak mempunyai pistol. Di tangan Mako pada saat itu adalahhanya pinang dan sirih.
Kelima, aparat keamanan hanpir empat orang anggota. Tapi tidak mampu menangkap MusaMako Tabuni. Pertanyaannya ialah apakah dan menahan Mako Tabuni? Ada beberapa luka: kepala belakang, paha kiri dua kali tembakan, paha kanan 1 kali tembakan dan semua dijahit oleh petugas keamanan dari Rumah Sakit Bhayangkara.

Dari uraian kasus dan analisa ini, PGBP merekomendasikan:

Pertama, semua orang yang berada dii Tanah Papua, baik penduduk asli Papua dan penduduk non-Papua, kita bersama-sama bersatu dan melawan kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh orang-orangyang tidak bertanggungjawab. Papua dijaga sebagai rumah dan tanah kita bersama.

Kedua, kepada saudara-saudara Non-Papua perlu mengetahui bahwa perjuangan penduduk asli Papua bukan perjuangan membunuh dan menyusahkan sesama manusia. Melainkan, rakyat dan bangsa Papua berjuang melawan kekerasan dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Berjuang untuk meraih nilai-nilai keadilan, harkat dan martabat manusia, kesamaan derajat, kedamaian. Melawan eksploitasi, marjinalisasi, dominasi dan ketikadilan di atas tanah ini.
Ketiga, Segera diadakan dialog damai dan setara antara pemerintah Indonesia dan rakyat Papua tanpa syarat yang dimediasi pihak ketiga yang netral.
Keempat, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutus Pelapor Khusus ke Papua untuk melihat situasi dalam misi kemanusiaan di Tanah Papua. Karena, Penduduk Asli Papua berada dalam bahaya dan ancaman serius pemusnahan etnis yang dilakukan oleh Negara.
Kelima, Pemerintah Indonesia dan aparat keamanan jangan “mengkambing-hitamkan” penduduk asli Papua tentang kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua selama ini. Aparat kepolisian segera mengungkap siapa aktor yang sesungguhnya dibalik kekerasan dan kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua selama ini. Walaupun ada pelaku penembakan turis Jerman, Pieper Dietmar pada tanggal 29 Mei 2012 di Base G adalah orang asli Papua, yang harus dicari dan ditangkap adalah siapa yang berdiri dibelakang mereka.
Keenam, pemerintah dan aparat keamanan Indonesia harus berhenti dan jangan merendahkan martabat umat Umat di Tanah Papua dengan alasan keamanan Negara atau integritas NKRI. Pembunuhan dan kekerasan terhadap kemanusiaan berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila. (JubiNews/Eveert Joumilena)

IHCS Desak Segera Audit Pelanggaran HAM Di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on June 7, 2012 | 8:21 PM

Ritwan Darmawan ( foto Pendoman)
JAKARTA - Indonesian Human Right Comitte For Social Justice (IHCS) meminta Komisi I DPR RI mengaudit dan mendata semua masalah yang terjadi di Bumi Papua. Direktur IHCS, Ridwan Darmawan, mengatakan, audit tersebut mutlak dilakukan demi mengurai akar persoalan papua yang sudah dianggapnya begitu rumit.

"Segera audit dan inventarisasi seluruh persoalan-persoalan di Papua. Selain itu, fasilitasi dialog antar stakeholder di sana untuk mengurai kerumitan-kerumitan di sana," kata Ridwan Darmawan melalui pesan singkat, Kamis (7/6/2012).

Permintaan tersebut diutarakan Ridwan Darmawan dalam menanggapi rencana Komisi I DPR RI yang akan mengadakan kunjungan ke Papua, pada Pekan depan. Di gedung DPR, Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, mengatakan, kunjungan tersebut terkait aksi penembakan gelap yang belakangan malah makin marak di sana.

Menurut Ridwan, kekerasan di Papua tergolong persoalan laten yang belum bisa ditangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sana, kata dia, kekerasan telah menjelma begitu kompleks membaur dengan kemiskinan masyarakat Papua.

"Ironisnya, hal itu dirasakan rakyat Papua di saat korporasi-korporasi besar dunia beroperasi mengeksploitasi kekayaan alam Papua. Sebut saja Freeport," tegasnya.

Belum lagi masalah integrasi yang dianggap sebagian masyarakat Papua belum selesai. Menurut Ridwan, masalah Papua seperti bara api dalam sekam. "Integrasi Papua terus-terusan menuai kontroversi, baik di tingkat nasional maupun global," kata Ridwan.

Pria yang saat ini sedang mengadvokasi buruh PT Freeport itu meminta pemerintah memberi keadilan terhadap masyarakat Papua. Dia mendesak pemerintah segera  menegakkan hukum terkait kekerasan yang sudah seperti makanan sehari-hari bagi warga di sana.

"Para pelaku pelanggaran HAM Abepura, Wamena, Wasior hingga kini belum ditemukan dan dihukum. Penembakan-penembakan di area Freeport juga belum bisa diungkap. hal itu jelas menimbulkan ketidakpuasan dan juga tidak ada efek jera untuk para pelaku teror di sana," kata Ridwan, yang kutip OkZone.news

13 Papuans, Killed In Shooting Death By Police Joint army / police in Wamena - Papua

Increased anxiety and Emergency Situations in West Papua after a violent military / police led to 13 people were killed in (24h) twenty-four hours.

Voice Baptist Jayapura, - Violence broke out again after two battalions Wamena military personnel who ride a motorcycle crashed into and killed a boy.

The family did not accept their son in a hit, the population of military personnel are attacking both of them have been killed and only in-patient hospital Wamena.

As the combined forces revenge TNI / police brutality and uncontrolled, while the police reportedly beat and shot several people, while the data on the victims who gathered some 13 people were shot and killed instantly in the incident 06/06 at 07 at night.

Up to 500 homes have been burned by the soldiers allegedly with all the goods and treasure on earth scorching in quotation Newzeland radiator.
Local human rights sources said the bullets that were fired indiscriminately and that dozens of people have been beaten and shot by soldiers.

Until this news was sent down, can not be in the confirmation and verification because the real situation is very urgent and tertutut for the people and journalists and humanitarian workers.

Papua expert, Greg Poulgrain told Radio Australia Connect Asia said that the current situation in Papua needs serious attention.

Papua current situation is an emergency, officials can not be controlled by humanitarian workers because the apparatus is very brutal and banya catching and shooting without hair, it needs no special advocacy and international intervention on the current situation.

 Photos News from Wamena : West Papua - Indonesian Military launch mass offensive and burning the villages 


























Letters can be sent to: Susilo Bambang Yudhoyono, President of Indonesia, Jl. No veteran. 16, Jakarta Pusat, Indonesia or faxed to 62 21 3442223
PLEASE SEND YOUR LETTERS TO:

1. Susilo Bambang Yudhoyono
The President of Indonesia
Jl. Veteran No. 16
Jakarta Pusat
INDONESIA
Tel: +62 21 3863777, 3503088.
Fax: +62 21 3442223

2. Mr. Kemal Azis Stamboel
The Chairman of the First Commission of House of Representative of Indonesia Gedung DPR RI Nusantara II, Lantai 1 Jl. Jenderal Gatot Subroto Jakarta 10270 INDONESIA
Phone: +62 21 5715518
Fax: +62 21 5715523

3. Chairman of Third Commission of The House of Representative of Indonesia Jl. Gatot Subroto No. 6 Jakarta INDONESIA
Tel:+62 21 5715569
Fax: +62 21 5715566

4. Mr. Erfi Triassunu
Commander of Regional Military Command XVII Cendrawasih (Kemiliteran Daerah Papua / Kodam Papua) Jl. Polimak atas Jayapura Provinsi Papua INDONESIA
Fax: +62 967 533763

5. General of Police Timur Pradopo
Chief of Indonesian National Police
Markas Besar Kepolisian Indonesia
Jl. Trunojoyo No. 3
Kebayoran Baru
South Jakarta 12110
INDONESIA
Tel: +62 21 3848537, 7260306, 7218010
Fax: +62 21 7220669

6. Head of Division of Profession and Security of Indonesian Police Markas Besar Kepolisian Indonesia Jl. Trunojoyo No. 3 Kebayoran Baru South Jakarta 12110 INDONESIA
Tel: +62 21 3848537, 7260306, 7218010
Fax: +62 21 7220669

7. Chairman of the National Police Commission (Kompolnas) Jl. Tirtayasa VII No. 20 Komplek PTIK Jakarta Selatan INDONESIA
Tel: +62 21 739 2352
Fax: +62 21 739 2317

8. Head of National Commission on Human Rights of Indonesia Jalan Latuharhary No.4-B, Jakarta 10310 INDONESIA
Tel: +62 21 392 5227-30
Fax: +62 21 392 5227

9. Ms. Harkristuti Harkrisnowo
General Director of Human Rights
Department of Law and Human Rights Republic of Indonesia Jl. HR Rasuna Said Kav.6-7 Kuningan, Jakarta 12940 INDONESIA
Tel: +62 21 525 3006, 525 3889, 526 4280
Fax: +62 21 525 3095

10. Chief of Regional Police of Papua province Jl. Samratulangi No. 8 Jayapura INDONESIA
Tel: + 62 0967 531014
Fax: +62 0967 533763
 11. Chief of Jayapura city district police (POLRESTA) Jl. A. Yani No.11 Jayapura INDONESIA

Aparat Polisi Menembak Mati Teju Tabuni (17th), di Japis kota Jayapura papua

Written By Voice Of Baptist Papua on June 6, 2012 | 8:20 PM

Teju Tabuni ( Korban Penembakan Polisi-foto-HP)
Jayapura Voice Baptist,-- Tadi pagi jam 08.00 warga japis kota jayapura di kagetkan dengan bunyi tembakan oleh aparat kepolisiaan kota jayapura, dalam insiden itu telah menewaskan seorang warga yang bernama Teju Tabuni, saat itu duduk santai di alte bus depan Kampus UNIYAP Japis Kota jayapura (07/06).

Menurut informasi yang beredar  versi saksi bahwa korban di tembak saat itu, Kejadiannya pukul 8:30, Polisi berjumlah 4 orang menggunakan 2 Motor dalam kandisi keadaan mabuk berat, datang menghampiri korban yang sedang duduk santai dan mengeluarkan 4 kali tembakan yang mengakibatkan korban jatuh dan tidak bernyawa.
Tidak lama kemudian aparat keamanan sampai di tempat kejadian (TKP)  selanjutnya korban ( Teju Tabuni) diantar ke RSUD Dok II menggunakan mobil avansa hitam dengan nomor polisi tidak diketahui.

Menurut Aparat bahwa korban terjatuh dan kami datang hanya mau menolong katanya, ketika keluarga korban mau menjenguk di RS Dok II Jayapura,  di persulit dan tidak di ijinkan karena pihak aparat menjaga ketat dengan lengkap persenjataan, dan perlu diketahui juga bahwa kondisi korban selain mengalami luka tembak tetapi leherpun ikut di patahkan.
Keluarga sangat membutuhkan advokasi, berharap agar harus di jelaskan apa alasan aparat menembak seorang anak yang tidak ada salahnya.

Data Korban:
Nama Korban :  Teju Tabuni
Umur               : (17 thn)
Warga              : Kota Jayapura ( Asal Wamena)

Yesa Tewas Penganiayaan Aparat, Bukan di injak Massa KNPB

Written By Voice Of Baptist Papua on June 5, 2012 | 9:27 PM


Yesa Mirin ( Korban KNPB)
Keluarga Yesa Mirin,korban tewas akibat penghadangan massa aksi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) kemarin (Senin, 4/6) membantah pemberitaan media massa yang
menyebutkan Yesa Mirin tewas karena terinjak massa aksi.

Menurut keluarga korban, Yesa meninggal kira-kira pukul 14:00 di lokasi kejadian, kampung  harapan. Jenazahnya kemudian dibawa oleh pihak keamanan bersama korban luka-luka ke rumah sakit Yowari. “Ia meninggal jam 2 siang tetapi keluarga tahu jam 7 malam,” kata Bitibalyo, paman Yesa. 

Yesa meninggal akibat penembakan dan penganiayaan aparat keamanan yang membubarkan masa aksi. Menurut penjelasan keluarga, “Kemarin itu dia duduk di pinggir bak kijang menghadap ke depan dan kena tembakan dari belakang. Ia jatuh ke badan jalan. Lalu polisi datang, pegang leher dan memutar leher, mati di tempat. Peluru masih bersarang di tubuh korban,” kata paman Yesa, J. Bitibalyo. “Perbuatan demikian yang menyebabkan Yesa meninggal bukan seperti yang diberitakan media lokal bahwa Yesa mati karena diinjak massa aksi. Itu tidak benar,” kata Jesman Bitibalyo. Setelah keluarga mengetahui Yesa meninggal pada pukul 19:00, keluarga mendatangi rumah sakit pada waktu yang sama. Keluarga belum bisa melihat mayat karena polisi mengisolasi rumah sakit dengan penjagaan ketat.

“Saya datang ke sini pukul 18.30. Polisi menghalangi orang Papua masuk ke rumah sakit ini. Saya memberanikan diri masuk dan ketemu mayatnya di ruang jenazah. Saya yang menghubungi keluarga lain,” kata seorang perempuan, teman SD Yesa yang tidak mau menyebutkan namanya.

Yesa Mirin anak ketiga dari enam bersaudara. “Kami ada enam bersaudara. Ia anak ketiga,” kata Yulce Mirin, kakak perempuan kepada tabloidjubi.com, Selasa (5/6) di Rumah Sakit Yowari sambil menetesakan air mata.

Yesa terdaftar sebagai mahasiswa fakultas sejarah di Universitas Cenderawasih semester 2. “Ia kuliah di Uncen jurusan sejarah,” kata Yulce sambil menunjukan kartu kuliah kepada tabloidjubi.com di rumah sakit Yowari. Di kartu nampak Yesa terdaftar dengan NIM 0110140376

Perhatian Hak asasi manusia masih kurang di Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on May 23, 2012 | 9:44 PM

Karlis Salna, AAP Asia Tenggara Koresponden

Korban Penyiksaan TNI/Polri di Papua (foto Mulia dok)
AU-Voice baptist,-- Indonesia menghadapi kritik baru atas catatan hak asasi manusia setelah satu tahun kerusuhan lanjutan dan memenjarakan terkemuka aktivis politik di Papua.

Dalam laporan tahunannya pada keadaan hak asasi manusia di seluruh dunia, Amnesty Internasional juga mengkritik pemerintah Indonesia atas apa yang digambarkan sebagai respon cukup untuk serangan yang gigih pada agama minoritas.

Namun laporan tersebut dilindungi kritik yang terberat untuk tuduhan penyiksaan dan penggunaan yang tidak perlu kekuatan yang berlebihan oleh militer, terutama di provinsi bergolak Papua dan Maluku.
Yang di kutip News.smh.com.au/

Ini menunjuk ke sebuah rakit pelanggaran di Papua pada tahun 2011, termasuk pada Oktober ketika pasukan keamanan menembaki peserta dalam kampanye kemerdekaan di kota Abepura, setelah itu tiga orang ditemukan tewas.

TPN-OPM letter in Paniai: We Will Not Give Up

Written By Voice Of Baptist Papua on January 7, 2012 | 5:38 AM

Gen Jhon Yogi  bersama pasukan (foto jubi)
Jubi --- Leader of TPN OPM IV Division II Makodam Pemka Paniai, General John Magai Yogi declared, would not retreat one step in the operation serve military-police joint forces that began last August 2011. It is committed, its predecessors pioneered the struggle continues to achieve the expectations of the West Papuans. The statement as stated in the letter issued from the middle of the jungle.

"We TPN throughout Papua OPM will never give up and will continue to fight the Indonesian authorities to the death," he wrote in a letter dated January 5, 2012. "We only hold Ukaa Mapega (bow and arrow, Ed.), But we rely on God, we are ready to face Brimob Police Headquarters and Detachment 88 as Indonesia's elite troops, equipped with modern weapons and today they still control Paniai area, "he added.

Satu orang ditembak Mati oleh TNI/POLRI

Written By Voice Of Baptist Papua on January 6, 2012 | 9:42 PM

TNI dan OPM (foto ilst SBP)
Dalam Kontak Senjata TNI-OPM di Puncak Jaya Papua

Puncak Jaya SBP—Aksi penembakan dan baku tembak antar gabungan TNI/POLRI dan OPM terus berlanjut di kabupaten puncak jaya – papua, tepatnya di lokasi Kumipaga sekitar 3 km dari kota mulia puncak jaya , Yang diterima laporan oleh baptis huma rights yang di knformasi melalui suara baptis papua jumat 06/12 waktu setempat.

 Dalam aksi baku tembak itu   seorang anggota OPM tewas tertembak. Satu pucuk senjata api laras panjang jenis SS1 V1 call 5,56 dengan nomor seri AG A.095370 serta amunisi sebanyak 75 butir berhasil disita.

Parlemen Belanda Minta Pasukan PBB ke Papua

Written By Voice Of Baptist Papua on December 23, 2011 | 10:06 PM

Lambang Bendera PBB (Foto: Antara)
PAPUAN, Belanda ---- Parlemen Belanda Bidang Komisi Luar Negeri, dalam salah tuntutannya meminta agar Pemerintah Belanda segera mengusahakan bantuan keamanan internasional (pasukan PBB) untuk mengamankan Papua terhadap tindakan represif yang dilakukan aparat TNI/Polri dan Densus 88.

Selain itu, Komisi Luar Negeri juga meminta agar Belanda mengirimkan diplomatnya untuk memantau keadaan di Papua dan juga menggunakan kekuasaan pemerintah untuk berdialog dengan pemerintah Indonesia agar segera menghentikan segala bentuk kekerasan di Papua.

Waktunya untuk mengubah keterlibatan Australia di Papua Barat ofensif


Siaran Pers: ACT Untuk Perdamaian
Published  :West Papua Media
Undang-undang Untuk Perdamaian

Laporan yang muncul pekan ini bahwa helikopter dari mana 17 orang Papua Barat baru-baru ini ditembak adalah mereka dari sebuah perusahaan pertambangan milik Australia, Paniai Emas. Selanjutnya, ini Bahasa Indonesia yang sedang berlangsung melibatkan ofensif kontra-terorisme Detasemen Unit 88, yang telah dilatih oleh Australia.
Ini bangsa Indonesia bersama polisi-militer ecara  ofensif kabarnya juga membakar desa Toko, Badawo, Dogouto, Obayoweta, Dey, dan Wamanik, dengan 20.000 orang sekarang terlantar. Gambar dilaporkan di media Australia dan internasional menunjukkan lebih banyak pasukan yang dikerahkan ke Papua Barat.

LPS Mengutuk Pasukan Militer Dan Polisi Indonesia Untuk Serangan Barbar Pada Masyarakat Papua Barat


Oleh Prof Jose Maria Sison
Ketua Liga Internasional Perjuangan Rakyat

Kami, Liga Internasional Perjuangan Rakyat, mengutuk dalam terkuat istilah militer Indonesia dan pasukan polisi untuk barbar serangan terhadap rakyat Papua Barat, terutama di daerah besar Paniai sejak Desember 13.

Organisasi hak asasi manusia telah melaporkan bahwa sejumlah orang Papua Barat telah tewas dan terluka. Dua puluh tujuh desa telah diratakan dengan tanah. Lebih dari 20.000 orang terpaksa mengungsi lebih dari 130 desa dan rentan terhadap kelaparan dan penyakit. Serangan telah dilakukan oleh pasukan darat Indonesia dan oleh helikopter.
Terlibat dalam serangan batalyon tempur lebih dari empat Tentara Indonesia (TNI) dari Batalyon Kostrad 753 pasukan komando, Brimob paramiliter polisi, dan elit kontra-terorisme pasukan dari Detasemen
88 - semua unit dipersenjatai, dilatih, dan dipasok oleh Australia dan pemerintah AS.

Pemerhati HAM di seluruh dunia Meminta pembebasan Filep Karma

Written By Voice Of Baptist Papua on December 16, 2011 | 1:32 AM

Update dan sumber publikasi:http://www.amnesty.org.au/news/

Orang-orang lebih dari 80 negara di setiap wilayah di dunia telah datang bersama-sama untuk menuntut pembebasan tahanan indonesian Filep Karma nurani, yang saat ini menjalani hukuman penjara 15 tahun untuk mengambil bagian dalam upacara damai di mana suatu bendera Papua daerah dibesarkan .

Filep Karma, 52, adalah salah satu dari individu pendukung Amnesty International di seluruh dunia telah dipilih untuk Menulis untuk kampanye Hak, salah satu kampanye terbesar menulis surat yang pernah dilakukan. Ratusan ribu orang telah menulis surat, penandatanganan petisi, mengirim pesan SMS dan mengambil tindakan secara online sejak 3 Desember untuk menuntut keadilan bagi Filep Karma dan 13 kasus lainnya dari berbagai negara termasuk Meksiko, Nigeria, Rusia, Sri Lanka, Turki, Amerika Serikat dan Zimbabwe.

Apapun Alasannya Aparat Tidak Boleh Menembak

Written By Voice Of Baptist Papua on September 5, 2011 | 11:00 PM

By, Dumma Socratez S. Yoman
Pihak gereja dan Rakyat Papua menaruh keprihatinan terhadap sikap, perilaku dan watak aparat keamanan Indonesia yang tidak manusiawi terhadap umat Tuhan di Tanah Papua. Peristiwa penembakan umat Tuhan papua serta baru-baru ini ada penembakan terhadap Benedict Umap (19Th) di merauke 30/08 tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Peristiwa –peristiwa ini, masih memperlihatkan bahwa sikap aparat keamanan untuk terus mempertahankan Stigam OPM, separatis dan makar dengan cara pembentukan opini dan pecitraan.
“pola dan cara-cara ini masih dipertahankan dan dipelihara oleh aparat keamanan selama ini. Karena teori konflik dan pembiaran konflik hanya dimiliki aparat keamanan, konflik berkepanjangan di Tanah Papua yang dimulai sejak 1 Mei 1963 atas status politik Papua dalam Indonesia telah menjadi lahan bisnis para elite militer. Pasalnya teror, intimidasi dan pembunuhan rakyat sipil yang selalu dijadikan solusi penyelesaian masalah.

Twitt VBPapua

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SBP-News @VBaptistPapua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger